Denmark Boikot Coca-Cola, Bukan Karena Isu Israel, Inilah Penyebabnya
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON – Penduduk Denmark memutuskan untuk memboikot Coca-Cola. Boikot ini menyebabkan penurunan volume penjualan Coca-Cola, sementara saingan lokal justru meraih lebih banyak pangsa pasar.
Jacob Aarup-Andersen, CEO Carlsberg, menyatakan hal ini pada Selasa (29/4/2025). Perusahaan bir tersebut menangani pengemasan minuman Coca-Cola di Denmark. Carlsberg, yang juga memasarkan bir Kronenbourg serta minuman ringan seperti Tuborg Soda, menyebutkan bahwa penjualan Coke di Denmark mengalami sedikit penurunan. “Terdapat peningkatan boikot konsumen terhadap merek-merek Amerika,” ujarnya.
Konsumen juga mulai menghindari merek-merek seperti Tesla, produk-produk seperti wiski asal AS, dan rencana perjalanan ke Amerika sebagai bentuk protes terhadap tarif AS, kebijakan luar negeri, atau tindakan politik Elon Musk.
Boikot ini dipicu setelah Presiden Donald Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Greenland, sebuah wilayah milik Denmark. Di Denmark, merek lokal telah memperoleh pangsa pasar signifikan dengan mengorbankan merek-merek AS seperti Coke, jelas Aarup-Andersen kepada investor dalam rapat pendapatan kuartal pertama Carlsberg.
Coca-Cola menolak berkomentar. Perusahaan ini sering menghadapi boikot di seluruh dunia karena posisinya sebagai minuman bersoda terpopuler di Amerika Serikat. Tahun lalu, penjualan mereka di Pakistan, Mesir, dan negara-negara mayoritas Muslim lainnya turun drastis karena konsumen beralih ke merek lokal sebagai protes terhadap dukungan AS untuk Israel dalam konflik Palestina.
Coca-Cola kini merasakan dampak boikot dari konsumen Hispanik di AS dan Meksiko karena sebuah video yang konon menunjukkan perusahaan tersebut memecat karyawan Latin dan melaporkan mereka ke otoritas imigrasi. Perusahaan menyatakan bahwa video tersebut tidak benar.
CEO Coca-Cola, James Quincey, menyatakan bahwa perusahaan fokus untuk pulih dari boikot ini, yang sangat memengaruhi operasional mereka di bagian selatan AS. Coca-Cola tidak menyebutkan boikot Denmark selama pembicaraan dengan analis pada hari Selasa, tetapi mengakui adanya beberapa sentimen negatif konsumen di Eropa.
Namun Aarup-Andersen menyatakan bahwa baik Coca-Cola maupun Pepsi, yang juga dibotolkan oleh Carlsberg dan dijual di Denmark, diproduksi di pabrik bir Denmark oleh pekerja lokal. “Dari sudut pandang kami, ini adalah merek Denmark,” ujarnya, menambahkan bahwa Carlsberg tidak mendukung atau menentang boikot dan menghormati keputusan konsumen.
“Secara keseluruhan, portofolio minuman ringan Carlsberg di Denmark meningkat, dan penurunan Coca-Cola tidak terlalu berdampak besar pada volume keseluruhan,” tambah Aarup-Andersen.
Perusahaan bir tersebut memperingatkan pada hari Selasa bahwa tarif AS dapat memengaruhi pengeluaran konsumen dan biaya bahan baku di masa mendatang.
