Kajian IESR Paparkan Peluang Energi Terbarukan Indonesia
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Institute for Essential Services Reform (IESR) telah mengidentifikasi potensi energi terbarukan di Indonesia yang mencapai 333 gigawatt (GW), berdasarkan penelitian terbaru yang selesai pada Februari 2025. Sumber daya terbesar berasal dari tenaga angin, surya, dan mini hidro, dengan kapasitas yang layak baik secara teknis maupun finansial.
Manajer Program Transformasi Sistem Energi IESR, Deon Arinaldo, mengungkapkan kepada Komisi XII DPR RI pada hari Senin (5/5/2025), “Potensi terbesar terletak pada tenaga angin dengan kapasitas 167 GW, diikuti oleh tenaga surya sebesar 166 GW, dan mini hidro sekitar 0,7 GW.”
Deon menerangkan bahwa studi ini memakai pendekatan Geographic Information System (GIS) untuk memetakan potensi lahan, yang selanjutnya digabungkan dengan analisis kelayakan finansial berbasis model pembiayaan proyek. Lokasi dipilih secara ketat, terutama yang berdekatan dengan jaringan atau gardu PLN.
“Kami hanya memilih lahan yang dekat dengan jaringan PLN agar hasilnya benar-benar bisa dikembangkan dan diintegrasikan dengan jaringan listrik nasional,” katanya.
Dalam analisis finansial, IESR merujuk pada tarif energi terbarukan sesuai Perpres Nomor 112 Tahun 2022 dan menetapkan batas minimal internal rate of return (IRR) sebesar 6,96 persen.
“Bahkan ada proyek yang IRR-nya di atas 20 persen, yang tentu sangat menarik untuk investasi,” tambah Deon.
Secara geografis, potensi tenaga surya tersebar di berbagai wilayah, dengan konsentrasi signifikan di Pulau Jawa. Meskipun lahan di Jawa terbatas, infrastruktur jaringan yang memadai membuat banyak lokasi tetap layak dikembangkan.
“Infrastruktur jaringan di Jawa sudah lebih mumpuni, sehingga potensi yang layak tetap banyak ditemukan di sana,” jelasnya.
Data IESR menunjukkan, potensi tenaga surya dengan IRR di atas 10 persen mencapai 13,6 GW di Jawa, sementara Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera masing-masing menyumbang antara 7 hingga 11 GW. Untuk tenaga angin, sebarannya lebih luas di wilayah timur Indonesia seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
“Potensi dengan return investasi di atas 10 persen banyak ditemukan di Sulawesi dan Nusa Tenggara, yang juga memiliki kawasan industri sehingga cocok untuk pengembangan energi terbarukan,” ujar Deon.
Adapun potensi mini hidro, meski kapasitasnya relatif kecil (di bawah 10 MW), tersebar dominan di Sumatera dan sebagian kecil di Sulawesi. Teknologi ini dinilai penting untuk menyeimbangkan sistem dan melayani suplai listrik lokal.
Deon menegaskan bahwa besarnya potensi ini perlu didukung dengan strategi implementasi yang tepat agar bisa menarik investasi. Salah satunya melalui skema power wheeling atau pemanfaatan bersama jaringan transmisi.
“Skema ini memungkinkan pembangkit swasta dan industri untuk memanfaatkan jaringan PLN tanpa harus menunggu proses pengadaan yang panjang,” katanya.
