Panduan Kesabaran dari Rasulullah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tidak ada satu pun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW, ketika berjuang melawan musuh-musuhnya, mendoakan keburukan bagi mereka. Keberanian lisan Rasulullah SAW terkait dengan salah satu sifat mulia beliau, yaitu kesabaran. Hal ini diungkapkan oleh Dr Ahmad Muhammad al-Hufy dalam karyanya, Min Akhlaqin Nabi.
Menurut al-Hufy, para ulama memiliki perbedaan pandangan tentang pengertian sabar. Imam Ghazali, misalnya, menjelaskan bahwa inti dari sabar adalah menahan penderitaan dari gangguan orang lain, yaitu dengan tidak mengeluh. Kebalikan dari sabar adalah kegelisahan.
- Ratusan Visa Calon Jamaah Haji di Mataram Belum Keluar
- Niat Menabung Meningkat Pasca Lebaran, Indeks Capai 83,4
- Wisudawan Terbaik MES UIN Gus Dur Dedikasikan Riset untuk Pengembangan UMKM
Inti dari kesabaran adalah kemampuan menahan diri dari mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, lanjut al-Hufy, bisa dikatakan bahwa semua perilaku terpuji termasuk dalam kategori sabar.
Dalam sebuah riwayat, Nabi SAW pernah ditanya tentang iman. Beliau pun menjawab, “Iman itu adalah sabar.” Sebagian besar amal bergantung pada kesabaran dan kesabaran itulah yang paling penting.
Salah satu momen dari mana kita dapat mempelajari hakikat kesabaran adalah ketika putra kesayangan Rasulullah SAW, Ibrahim, wafat. Bayi tersebut hanya berumur belasan bulan dan meninggal karena sakit.
Ketika Ibrahim dalam keadaan sakaratul maut, Nabi SAW bersandar pada sahabatnya, Abdurrahman bin Auf. Pada saat itu, beliau sangat berduka.
Siapa yang tidak berduka atas kepergian anak yang kehadirannya telah lama dinantikan? Orang tua mana yang tidak merasa perih saat mengangkat tubuh anaknya yang telah meninggal? Itulah yang dialami oleh Nabi SAW.
