Trump Ragu Perubahan Iklim, AS Setop Pantau Bencana Alam
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON — Badan pemantau atmosfer dan kelautan Amerika Serikat (AS) NOAA akan berhenti memantau peristiwa iklim dan bencana alam yang menyebabkan kerugian miliaran dolar AS. Kebijakan terbaru dari administrasi Presiden AS Donald Trump ini merupakan upaya menekan sains iklim.
Selama lebih dari lima dekade, NOAA telah mencatat berbagai peristiwa cuaca ekstrem seperti tornado, badai, dan kekeringan. Basis data tersebut memberikan informasi penting untuk masyarakat, media, dan ilmuwan dalam menilai dampak buruk dari perubahan iklim yang terus berlanjut.
Data NOAA adalah kumpulan informasi unik yang tidak tersedia di lembaga lain. Namun, pada Kamis (8/5/2025) lalu, NOAA mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memperbarui basis data ini setelah 2024.
“Sesuai dengan perkembangan prioritas, mandat wajib, dan perubahan kepegawaian. Semua data yang ada akan diarsipkan,” kata pernyataan dari NOAA yang dikutip dari BERITA TERBARU INDONESIA, Ahad (11/5/2025).
Meteorolog dari Yale Climate Connection, Jeff Master, mengkritik keras langkah ini. Dia menyatakan bahwa data NOAA merupakan standar emas dalam mengevaluasi kerugian akibat peristiwa cuaca ekstrem.
“Ini adalah kerugian besar, terutama ketika kita sangat memerlukan pemahaman lebih baik tentang bagaimana perubahan iklim meningkatkan kerugian yang disebabkan oleh bencana,” katanya kepada media Inggris, the Guardian.
Sejak 1980, NOAA mencatat 403 peristiwa iklim yang menghancurkan dengan total kerugian mencapai 2.915 triliun dolar AS. Data tersebut menunjukkan bahwa peristiwa cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Menurut catatan media AS, antara 1980 hingga 2024, rata-rata kerugian akibat bencana alam mencapai 9 miliar dolar AS per tahun. Namun, dalam lima tahun terakhir, kerugian rata-rata meningkat menjadi 24 miliar dolar AS per tahun.
Salah satu hal yang menjadikan basis data NOAA sangat penting adalah kemampuannya memanfaatkan berbagai sumber yang tidak tersedia untuk publik, termasuk data dari perusahaan asuransi dan laporan dari lembaga lokal dan negara bagian.
Jeremy Porter, salah satu pendiri perusahaan riset risiko iklim First Street, mengatakan tanpa basis data ini, akan sulit untuk menganalisis tren kerusakan, terutama pada tingkat regional atau untuk berbagai jenis bahaya, kecuali ada pendanaan besar atau akses institusional ke model bencana komersial.
Basis data NOAA adalah sumber yang sangat berharga untuk memahami dan menilai dampak perubahan iklim terhadap frekuensi dan kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam. Penghentian pembaruan data ini adalah salah satu langkah Trump dalam menekan berbagai upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Trump tidak percaya pada perubahan iklim dan menyebutnya sebagai “tipuan”. Dia mendirikan Departemen Efisiensi Pemerintah yang dipimpin oleh miliarder Elon Musk.
Departemen tersebut melakukan pemangkasan besar-besaran di pemerintahan federal. Dalam proses ini, lebih dari 1.300 pegawai NOAA dipecat atau diminta mengundurkan diri “sukarela,” dan sekitar 1.000 pegawai lainnya juga akan mengalami nasib serupa. Jumlah ini hampir mencapai 20 persen dari total tenaga kerja NOAA sebelumnya.
