Pembicaraan Penghentian Konflik Gaza oleh Donald Trump dan Pangeran MBS
BERITA TERBARU INDONESIA, RIYADH — Meski Presiden AS Donald Trump tidak berencana untuk mengunjungi Israel dalam perjalanan kenegaraannya di Timur Tengah minggu ini, ada kemungkinan besar ia akan berdiskusi dengan para pemimpin Arab terkait upaya mengakhiri konflik di Gaza. Berdasarkan informasi dari Kementerian Luar Negeri AS kepada televisi Saudi, Al-Sharq, Washington dan Riyadh diharapkan akan menandatangani sejumlah perjanjian penting selama kunjungan Trump.
“Kami akan mengadakan diskusi dengan Riyadh tentang mengakhiri konflik di Gaza,” demikian pernyataan dari Kemenlu AS yang dilaporkan oleh Ynet, Selasa (13/5/2025).
- Trump Kritik Uni Eropa: Lebih Nakal dari China soal Perdagangan
- Strategi Mengatasi Inflasi, Donald Trump: Harga Obat Resep di AS Bakal Turun 59 Persen
- Fokus Bangun Amerika, Donald Trump: Amerika Tak Lagi Subsidi Layanan Kesehatan Asing
Menurut laporan dari Reuters, normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel tidak akan menjadi topik pembahasan dan tidak menjadi syarat dalam kesepakatan AS yang membantu Riyadh dalam mengembangkan program nuklir untuk tujuan sipil. Tidak memasukkan Israel dalam agendanya menunjukkan prioritas Trump, yang sudah ia tunjukkan dalam beberapa hari terakhir.
Diketahui bahwa AS baru saja mengadakan negosiasi langsung dengan Hamas terkait pembebasan sandera berkewarganegaraan AS dan mendesak pembukaan kembali pengiriman bantuan kemanusiaan ke Gaza. Trump juga baru-baru ini mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok militan Houthi di Yaman, namun tidak memasukkan tuntutan agar Houthi menghentikan serangan misil ke Israel dalam kesepakatan tersebut.
Washington juga telah memulai pembicaraan dengan Iran mengenai program nuklir Teheran, yang bisa menghasilkan kesepakatan dengan dampak potensial yang merugikan bagi Israel dan memungkinkan Teheran tetap mengembangkan senjata nuklir sementara AS mencabut sanksi-sanksinya.
Menurut laporan Reuters, militer AS telah mengganti pesawat pengebom B-2 dengan jenis pesawat lain di pangkalan militer di Diego Garcia. “Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa bagi Trump, negara-negara Teluk adalah sekutu yang lebih baik dan lebih kuat dibandingkan Israel di bawah pemerintahan saat ini,” ujar seorang peneliti dari Atlantic Council kepada Associated Press.
