Di Forum Ekonomi Islam, JK: Bunga Tinggi Lebih dari 20 Persen adalah Bentuk Ketidakadilan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Republik Indonesia, menekankan bahwa ekonomi Islam harus bebas dari monopoli dan spekulasi karena prinsip tersebut bertentangan dengan esensinya.
“Ekonomi Islam harus sesuai dengan perkembangan zaman. Kita tidak harus kembali ke praktik abad keenam hingga ke-13,” ujar JK dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat memberikan sambutan di Muktamar ke-5 Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di Jakarta, Kamis malam.
Pada kesempatan itu, JK menjelaskan bahwa penerapan ekonomi Islam harus mengikuti prinsip dan esensinya. Menurutnya, inti dari ekonomi Islam adalah menciptakan kesejahteraan, kebahagiaan, keadilan, dan keterbukaan.
“Dari esensi tersebut, muncul perilaku yang harus dihindari, seperti monopoli dan spekulasi. Harus jujur, terbuka, dan bersaing dengan sehat. Tidak boleh ada praktik penipuan dalam ekonomi Islam,” tambah Ketua Dewan Masjid Indonesia ini.
JK menyimpulkan bahwa ekonomi Islam sebenarnya mudah untuk diterapkan.
“Namun, jangan dipermudah atau dibuat lebih sulit dari yang seharusnya. Lakukan hal-hal yang tidak dilarang,” imbuhnya.
Dia mencontohkan masalah riba yang sering menjadi perdebatan.
Menurut JK, riba terjadi ketika ada transaksi pinjam-meminjam yang merugikan pihak peminjam.
