Naskah Khutbah Jumat: Tiga Doa Nabi untuk Jamaah Haji, Bekal Spiritual Menuju Haji Mabrur
BERITA TERBARU INDONESIA, Oleh: Ustadz Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsew, Lampung
Khutbah I
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, sebaik-baik manusia, beserta keluarga dan para sahabatnya. Saya bersaksi bahwa…
Ma’asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah diberikan. Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbilalamin, semoga nikmat yang kita syukuri akan terus bertambah oleh Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw. Allah swt dan para malaikat-Nya pun bershalawat kepada Nabi Muhammad saw.
Mengawali khutbah ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Takwa adalah bekal penting dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Takwa juga menjadi modal berharga bagi saudara-saudara kita yang menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Seperti yang kita ketahui, saat ini jamaah haji sudah mulai berangkat menuju Arab Saudi untuk melaksanakan rukun Islam kelima di Kota Suci Makkah. Pentingnya berbekal takwa ini telah ditegaskan Allah swt dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 197:
Artinya: “(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafa’ats, maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Dalam kitab tafsir Marah Labid karya Syekh Nawawi Al-Bantani juz I, halaman 47, dijelaskan makna takwa sebagai sebaik-baiknya bekal haji. Makna pertama adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan larangan. Dengan cara ini, seseorang telah membawa bekal terbaik. Makna lainnya adalah sesuatu yang digunakan sebagai bekal untuk pelaksanaan ibadah haji agar tidak meminta-minta kepada orang lain selama melaksanakan haji.
