Seputar Madinah: Sejarah dan Karakter Penduduknya
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Allah SWT beberapa kali menyebut Madinah al-Munawwarah dan penduduk kota ini dalam Alquran. Hal ini terdapat dalam surah at-Taubah ayat 101 dan 120, surah al-Ahzab ayat 60, surah al-Hasyr ayat 9, serta surah al-Munafiqun ayat 8.
Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah al-Munawwarah pada hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awal, yang bertepatan dengan 27 September 622 M. Pada kedatangan Rasulullah SAW, kegembiraan menyebar di wajah-wajah penduduk lokal, dari yang berpangkat tinggi hingga para budak.
- Komitmen SMKN Pertanian Lembang Mendukung Ketahanan Pangan Ala Presiden Prabowo
- Ketua GRIB Jaya Ditangkap Terkait Kasus Penyegelan Perusahaan di Barito Selatan
- Hamas: Pernyataan Gencatan Senjata Netanyahu Merupakan Manuver Politik
Seorang sahabat, Anas bin Malik, menggambarkan perasaannya pada saat penting itu, “Ketika Rasulullah SAW memasuki Madinah, segala sesuatunya bercahaya, dan ketika beliau wafat, semuanya terasa gelap.”
Kota yang Bersahabat
Keramahan masyarakat Madinah dikenal luas di seluruh dunia Islam. Inilah salah satu keistimewaan yang diberikan Allah kepada mereka.
Hati penduduk Madinah dibuka oleh Allah SWT untuk menerima risalah Nabi SAW segera setelah mendengar kebesaran Islam. Bahkan, mereka melakukannya dengan pengorbanan darah, pikiran, harta, dan tenaga.
Mengapa penduduk Madinah memiliki karakter terbuka, sementara orang-orang Makkah cenderung kaku dan keras hati?
Muhammad Musthofa Mujahid memberikan penjelasan. Dalam bukunya, Abqariatu ar-Rasul fi Iktisab al-‘Uqul (‘Kejeniusan Rasulullah dalam Menarik Hati’), ia menjelaskan bahwa karakter penduduk Madinah terbentuk karena profesi mereka sebagai petani.
Masyarakat petani terbiasa hidup dalam suasana saling membantu, baik dalam keluarga maupun masyarakat. Kegiatan pertanian menuntut kerja sama antarindividu, terutama pada musim tanam dan panen.
Di masa menunggu panen, menurut Musthofa Mujahid, mereka terlibat dalam aktivitas lain, seperti menjaga tanaman, memerah susu, atau bersosialisasi dengan sesama petani.
Kondisi ini membentuk karakter masyarakat Madinah yang terbuka, baik dalam dialog maupun kerja sama.
Hal yang berbeda terjadi di Makkah. Penduduk kota kelahiran Nabi SAW itu umumnya bekerja sebagai pedagang.
Pemikiran pedagang lebih bersifat transaksional, berdasarkan perhitungan untung-rugi.
Oleh karena itu, mereka sulit diajak berdialog. Bahkan, Umar bin Khattab, tokoh besar, merasa heran dengan keluwesan penduduk Madinah. Namun, ia segera menyadari bahwa karakter mereka terbentuk oleh pola kerja sehari-hari yang mereka jalani.
