Sejak Perang Gaza, 940 Pesawat dan Kapal Amerika Membawa Senjata ke Israel
BERITA TERBARU INDONESIA, TEL AVIV— Israel telah menerima 940 pesawat dan kapal yang penuh dengan senjata dan peralatan militer dari Amerika Serikat (AS) sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, demikian pernyataan dari Kementerian Pertahanan pada Selasa (28/5/2025).
Menurut Kementerian tersebut, pesawat ke-800 dalam operasi pengangkutan udara peralatan militer dan senjata yang komprehensif telah mendarat di Israel pagi ini.
Selama operasi pengangkutan udara ini, lebih dari 90 ribu ton peralatan militer telah dikirim ke Israel, termasuk melalui 800 penerbangan udara dan sekitar 140 pengiriman laut.
Peralatan yang dibeli dan diangkut mencakup amunisi, kendaraan lapis baja, alat pelindung diri, dan pasokan medis, seperti dijelaskan oleh Kementerian Pertahanan.
Pengiriman senjata terbaru dari AS ini terjadi di tengah laporan mengenai hubungan yang tegang antara Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden AS, Donald Trump.
Sementara itu, Pemerintah Partai Buruh Inggris dilaporkan telah menyetujui ekspor senjata senilai sekitar 160 juta dolar AS ke Israel antara Oktober dan Desember 2024, yang lebih besar dari total yang disetujui selama empat tahun masa pemerintahan Konservatif sebelumnya.
Angka ini, berdasarkan data perizinan ekspor strategis terbaru, menunjukkan peningkatan signifikan dalam dukungan militer Inggris untuk Israel ketika negara tersebut melanjutkan tindakan militernya di Gaza.
Sebagai perbandingan, dari 2020 hingga 2023, lisensi ekspor senjata Inggris ke Israel mencapai sekitar 144 juta dolar AS, dengan rincian 39 juta dolar pada 2020, 30 juta dolar pada 2021, 52 juta dolar pada 2022, dan 23 juta dolar pada 2023.
Data ini, yang dikumpulkan oleh Campaign Against Arms Trade (CAAT), muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap dukungan militer Inggris bagi Israel dalam konflik Gaza.
Emily Apple, Koordinator Media CAAT, mengkritik keputusan pemerintah Partai Buruh yang disebutnya mendukung tindakan militer Israel di Gaza.
Pengungkapan ini bertepatan dengan kasus di Pengadilan Tinggi, di mana pemerintah Inggris mempertahankan keputusannya untuk terus memasok komponen jet tempur F-35 yang digunakan oleh Israel di Gaza.
Menurut hukum internasional dan domestik, Inggris berkewajiban untuk menangguhkan ekspor senjata jika ada risiko jelas bahwa senjata tersebut dapat digunakan untuk pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Namun, pengacara pemerintah berargumen bahwa bukti yang ada tidak mendukung kesimpulan bahwa genosida sedang atau telah terjadi di Gaza.
CAAT menantang klaim pemerintah, menyoroti kontradiksi dalam narasi resmi.
