Karena Pamer dan Riya, Ulama dan Dermawan Terancam Neraka
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Syekh Abu Abdullah Musthafa al-‘Adawy dalam bukunya, Fikih Akhlak, memaparkan esensi dari keikhlasan. Dalam bahasa Arab, istilah ikhlash berakar dari kata khalasha yang berarti ‘murni’ atau ‘bersih dari campuran dan kotoran’.
Dalam konteks ibadah, seseorang dianggap ikhlas jika melakukan amal semata-mata untuk Allah. Seorang mukhlis akan menjauhkan diri dari pujian dan perhatian makhluk, serta menjaga amalnya dari segala yang mencemarkan.
- Indonesia Kutuk Aksi Pembajakan Kapal Madleen oleh Israel
- Dari Benci Menjadi Cinta
- BP Haji Temukan Praktik Dugaan Pungli yang Menyasar Jamaah Lansia
Menurut al-‘Adawy, salah satu kunci keberhasilan dalam menjaga akhlak adalah ikhlas. ‘Jika Anda memberi, maka berilah hanya karena Allah. Jika Anda mencintai, maka cintailah hanya karena Allah, dan jika Anda membenci, bencilah karena Allah,’ tulisnya.
Allah menjanjikan ganjaran besar bagi mereka yang ikhlas dalam berderma. ‘Orang yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak ia akan mendapatkan kesenangan (yang sempurna)’ (QS al-Lail: 18-21).
Namun, ancaman siksa berat menanti mereka yang tidak tulus. Ketidaktulusan tetap menjadi pembeda di hadapan Allah. Meskipun seseorang dikenal berakhlak mulia selama hidupnya, surga belum tentu dapat diraih jika jauh dari ridha Illahi.
