BERITA TERBARU INDONESIA, DEPOK — Masyarakat AS dan Konflik Gaza
Perhatian masyarakat Amerika Serikat (AS) terhadap konflik Gaza mengalami perubahan besar setelah serangan 7 Oktober 2023. Menurut Prof James B. Hoesterey, seorang antropolog dari Emory University di Atlanta, solidaritas dengan warga Gaza semakin meluas, terutama di kalangan akademisi dan generasi muda AS.
Prof James menjelaskan bahwa meskipun media utama AS seperti The New York Times sering kali memprioritaskan narasi yang mendukung Israel dan menyoroti isu antisemitisme, simpati terhadap warga Gaza justru berkembang di lingkungan akademik.
Dia mengungkapkan, “Jika pada masa Intifada II tahun 2000-an, aksi protes didominasi oleh mahasiswa keturunan Timur Tengah atau Muslim, kini banyak warga Yahudi non-Zionis juga terlibat, menolak penggunaan identitas agama mereka untuk membenarkan kebijakan Israel.”
Prof James mencatat bahwa generasi di bawah 35 tahun memperlihatkan dukungan progresif terhadap kemerdekaan Palestina. “Mereka tidak hanya menentang serangan terhadap Gaza, tetapi juga memperjuangkan hak Palestina untuk merdeka,” jelasnya.
Di sisi lain, respons dari generasi tua dan otoritas kampus sering kali represif. Ia mencontohkan insiden di Emory University pada April lalu, ketika polisi membubarkan protes pro-Palestina dan menahan 28 orang, 23 di antaranya mahasiswa atau staf kampus.
“Presiden universitas pada awalnya menyebut para demonstran sebagai ‘oknum dari luar’, namun terbukti bahwa mereka adalah bagian dari komunitas kampus yang peduli terhadap Gaza,” kata Prof James.
Dia menilai bahwa situasi ini menunjukkan bagaimana isu Palestina dan Yahudi sering kali digunakan sebagai alat politik, terutama di era polarisasi Donald Trump.
Prof James juga mengkritik peningkatan isu antisemitisme dan Islamofobia secara bersamaan di AS. “Trump, misalnya, mengabaikan antisemitisme nyata, tetapi menggunakan narasinya untuk kepentingan elektoral,” tuturnya.
Prof James menambahkan, bahwa situasi ini menunjukkan bagaimana agama, baik Islam maupun Yahudi, dieksploitasi untuk kepentingan politik. “Yang lebih berbahaya bukanlah antisemitisme atau Islamofobia sebagai fenomena sosial, melainkan ketika keduanya dijadikan senjata untuk membungkam suara kritis,” ujarnya.
Dia optimistis bahwa gerakan di kampus-kampus AS yang kini meluas ke lebih dari 100 universitas, menandai babak baru kesadaran masyarakat AS tentang Palestina. “Ini bukan sekadar mengenai Gaza, tetapi tentang perlawanan terhadap rezim penindasan dan narasi media yang bias,” katanya.
