Apakah Yahudi Memiliki Hak untuk Kembali ke Tanah Palestina? Inilah Penjelasan Tegasnya
Konflik pertukaran serangan rudal yang mengguncang Timur Tengah juga memicu diskusi tajam di berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak yang bertanya: mengapa Iran begitu teguh dalam mendukung Palestina, bahkan hingga berhadapan secara militer dengan Israel?
- Pejuang Gaza Semakin Kuat, Mengalahkan Tentara Israel di Banyak Lokasi
- Juni Berdarah untuk Israel, 20 Perwira dan Tentaranya Tewas di Gaza
- Media: Perang Gaza, Israel Kembali ke Titik Nol
Jawabannya sederhana namun memiliki dampak besar, yaitu karena Palestina adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan historis dan kolonialisme modern.
Di balik perang rudal ini, terdapat perang narasi: siapa yang berhak atas tanah tersebut? Siapa yang harus pergi, dan siapa yang layak tinggal?
Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948, dunia internasional terus dihadapkan pada klaim besar dari zionisme bahwa orang-orang Yahudi memiliki hak untuk kembali ke tanah Palestina karena mereka, katanya, pernah diusir secara paksa dua ribu tahun lalu oleh kekaisaran Romawi. Klaim ini dikenal sebagai “hak kembali” atau hak diaspora Yahudi untuk kembali ke tanah leluhur.
Di permukaan, narasi ini tampak menyentuh. Ia menggabungkan elemen religius, sejarah penderitaan, dan keinginan pulang. Namun, jika kita telaah lebih dalam, klaim ini tidak sekadar sentimental.
Klaim ini adalah proyek ideologis yang telah menjustifikasi penjajahan tanah, pengusiran rakyat Palestina, dan pendirian negara eksklusif berbasis identitas etno-religius. Proyek ideologis ini bersembunyi di balik lipatan sejarah, dan perlu tindakan intelektual untuk membongkarnya.
BACA JUGA: Media-media Iran Ramai Beritakan Perang dengan Israel Akan Berkobar Kembali
Perlu kita tanyakan: apakah klaim “hak kembali” ini sah? Apakah ia berdiri di atas fakta sejarah dan norma hukum? Atau hanya sekadar narasi mitologis yang dijadikan senjata politik?
Sejarah yang Dijadikan Mitos
Dalam dunia filsafat sejarah, kita belajar bahwa sejarah tak selalu bicara tentang apa yang benar-benar terjadi, tetapi juga tentang bagaimana peristiwa itu dikisahkan dan dimaknai.
