Perjuangan Abu Ayyub: Berjihad di Usia 80 Tahun hingga Menjadi Syuhada
BERITA TERBARU INDONESIA, Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW mengunjungi Ummu Haraam binti Malhaan. Nabi tidur siang di rumah bibinya tersebut, lalu terbangun sambil tertawa. Wanita itu bertanya, “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?”
Nabi menjawab, “Aku baru saja melihat orang-orang dari umatku melintasi lautan untuk berperang di jalan Allah, seperti raja di atas ranjang.” Ummu Haraam berkata, “Berdoalah kepada Allah agar aku termasuk di antara mereka.” Nabi menjawab, “Engkau adalah salah satu dari mereka.”
Waktu terus berlalu. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat dan masa kekhalifahan berakhir, Muawiyah memimpin kaum Muslimin dan menyerukan jihad di jalan Allah SWT.
Target mereka adalah Konstantinopel, sebuah wilayah Romawi yang sulit ditaklukkan. Mendengar panggilan jihad itu, seorang kakek yang telah mendengar hadis Nabi SAW tersebut segera mengambil pedang dan tombaknya.
Siapakah kakek itu? Dia adalah Abu Ayyub al-Anshari, penduduk Madinah yang rumahnya dipilih unta Nabi SAW sebagai tempat tinggal sementara setelah hijrah dari Makkah. Sejarah mencatat betapa Abu Ayyub memuliakan Nabi dengan menyediakan makanan terbaik. Ketika Nabi memilih tidur di lantai bawah agar dekat dengan masjid, Abu Ayyub merasa tidak layak tidur di atas dan tak bisa tidur semalaman.
Syekh Aidh al-Qarni menerangkan bahwa Abu Ayyub memuliakan Nabi SAW lebih dari seorang murid kepada gurunya, seorang Muslim kepada imam besar, atau seorang pelayan kepada tamunya. Ketika Rasulullah SAW ingin pergi, Abu Ayyub memasangkan sandal ke kaki Nabi. Dia berdiri menunggu dan mengantarnya pergi. Abu Ayyub juga memasak untuk Nabi selama beliau tinggal di rumahnya.
Setelah Nabi SAW wafat, Abu Ayyub tetap mengikuti syariat dan ajarannya. Abu Ayyub, yang lahir di Aljazair, merindukan syahid dan ingin hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia Allah yang diberikan kepada mereka, juga senang dengan orang-orang yang belum menyusul mereka …” (QS Ali Imran: 169-171).
