BPS: Surplus Neraca Perdagangan Capai 11,07 Miliar Dolar AS di Awal 2025
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Neraca perdagangan Indonesia menunjukkan performa positif. Badan Pusat Statistik (BPS) menginformasikan bahwa neraca perdagangan barang Indonesia pada periode Januari hingga April 2025 mengalami surplus sebesar 11,07 miliar dolar AS. Jumlah ini bertambah 0,95 miliar dolar AS dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
“Prestasi ini didukung oleh ekspor yang mencapai 87,36 miliar dolar AS, lebih besar dibandingkan impor yang berada di angka 76,29 miliar dolar AS,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik (BRS) di Jakarta, Senin (2/6/2025).
Nilai ekspor sepanjang Januari sampai April 2025 bertambah 6,65 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan dengan total ekspor mencapai 68,84 miliar dolar AS, naik 16,08 persen secara tahunan.
Beberapa komoditas utama menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, antara lain besi dan baja yang berkontribusi sebesar 8,81 miliar dolar AS (naik 6,62 persen), serta minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya yang meningkat 20 persen menjadi 7,05 miliar dolar AS. Namun, ekspor batubara justru menurun 19,74 persen menjadi 8,17 miliar dolar AS.
Tiongkok tetap menjadi tujuan utama ekspor komoditas nonmigas Indonesia dengan nilai 18,87 miliar dolar AS atau 22,86 persen dari total ekspor. Diikuti oleh Amerika Serikat (9,38 miliar dolar AS atau 11,36 persen) dan India (5,59 miliar dolar AS atau 6,77 persen). Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta nikel. Sementara itu, ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya.
Dari sisi impor, BPS mencatat nilai impor selama Januari hingga April 2025 sebesar 76,29 miliar dolar AS, naik 6,27 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor nonmigas berkontribusi sebesar 65,29 miliar dolar AS (naik 9,18 persen), sedangkan impor migas menurun 8,27 persen menjadi 11 miliar dolar AS.
Impor terbesar berasal dari mesin/peralatan mekanis (10,75 miliar dolar AS), mesin/perlengkapan elektrik (9,35 miliar dolar AS), serta kendaraan dan bagiannya (3,45 miliar dolar AS). Dari sisi penggunaan, impor bahan baku atau penolong naik 5,32 persen menjadi 55,35 miliar dolar AS.
China menjadi negara asal impor nonmigas terbesar dengan nilai 25,77 miliar dolar AS (39,48 persen), diikuti Jepang (5,04 miliar dolar AS) dan Thailand (3,13 miliar dolar AS). Mayoritas impor dari China mencakup mesin, peralatan elektrik, dan kendaraan.
Surplus perdagangan nonmigas terbesar disumbang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (9,85 miliar dolar AS), bahan bakar mineral (9,16 miliar dolar AS), besi dan baja (5,54 miliar dolar AS), produk nikel (2,59 miliar dolar AS), serta alas kaki (2,05 miliar dolar AS).
Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi dengan Amerika Serikat (6,42 miliar dolar AS), India (4 miliar dolar AS), dan Filipina (2,92 miliar dolar AS). Komoditas penyumbang surplus terbesar ke Amerika Serikat antara lain mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian.
Namun, defisit perdagangan nonmigas juga terjadi, terbesar dengan Tiongkok (6,9 miliar dolar AS), Australia (1,57 miliar dolar AS), dan Hong Kong (486 juta dolar AS). Penyumbang defisit terbesar berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan.
Untuk bulan April saja, ekspor Indonesia mencapai 20,74 miliar dolar AS (naik 5,76 persen secara tahunan), sementara impor tercatat sebesar 20,59 miliar dolar AS (naik 21,84 persen).
