Kisah Jurnalis Al Jazeera Memperjuangkan Suara Palestina Meski Nyawa Terancam
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG — Maher Atiya Abu Qouta, seorang jurnalis Al Jazeera English yang berbasis di Qatar, masih mengenang momen ketika sebuah bangunan di Gaza, Palestina, dibom, hampir merenggut nyawanya. Saat itu, dia sedang melaporkan secara langsung situasi terkini di Palestina tidak jauh dari lokasi kejadian bersama rekannya, jurnalis Youmna El Sayed.
Ketika itu, pasukan Israel menggempur sebuah bangunan perumahan di Gaza, Palestina dengan bom. Maher melaporkan kejadian tersebut secara langsung bersama rekannya.
Ledakan bom yang menghancurkan bangunan tersebut sangat dekat dengan lokasi mereka, membahayakan nyawa keduanya. Beruntung, Maher dan Youmna berhasil menyelamatkan diri dari serangan-serangan Israel.
“Banyak situasi berbahaya yang kami hadapi, kami bertahan dari serangan-serangan,” ucapnya ditemani Youmna di Hotel Savoy Homan, Bandung, Minggu (25/5/2025).
Karena seringnya serangan yang dilancarkan, Maher bahkan lupa berapa banyak usaha yang dilakukan untuk tetap hidup. Namun demikian, Maher menegaskan bahwa dia tetap berkomitmen untuk melaporkan kondisi terkini di Palestina.
“Jika tidak disampaikan kepada dunia, maka dunia tidak akan tahu kebrutalan yang terjadi,” kata Maher.
Jurnalis Youmna mengungkapkan bahwa para jurnalis di Palestina bekerja dalam kondisi yang tidak mendukung, tanpa listrik, internet, dan fasilitas lainnya.
Selain itu, para jurnalis harus berpindah-pindah untuk mengirimkan hasil liputan mereka. Terkadang mereka memanfaatkan generator listrik atau panel surya untuk menyiasatinya.
“Semakin hari semakin sulit karena terus dibombardir,” ujarnya.
Meski dengan segala keterbatasan, para jurnalis tetap berkomitmen untuk tidak berhenti menyampaikan berita kepada dunia. Apalagi, Youmna menegaskan bahwa tindakan genosida oleh Israel terhadap Palestina masih terus berlangsung.
“Berbagai situasi sulit yang dihadapi wartawan tidak menjadi hambatan untuk bergerak, meski tanpa listrik,” katanya.
Kepala Biro Al Jazeera Gaza, Wael Al-Dahdouh, mengatakan bahwa para jurnalis menjalankan tugas mereka sebagai profesi, kemanusiaan, dan kebangsaan. Dia menegaskan bahwa para jurnalis yang meliput lahir dan besar di tanah Palestina.
Oleh karena itu, saat meliput kondisi di Palestina, mereka juga melaporkan tentang kondisi keluarga dan teman-teman mereka. Di tengah proses peliputan, banyak jurnalis yang menjadi sasaran tembakan saat sedang siaran langsung.
“Jurnalis juga menjadi korban genosida,” ujarnya yang hadir secara daring.
Wael menegaskan bahwa mereka akan terus melanjutkan peliputan tentang kondisi Palestina dan menjadi penghubung dengan seluruh dunia. Mereka tidak akan meninggalkan situasi yang terjadi di Palestina.
Sebelumnya, ratusan aktivis perempuan dari berbagai negara di Asia Pasifik berkumpul di Bandung untuk mendukung kemerdekaan Palestina yang masih dijajah Israel, Minggu (25/5/2025). Mereka berkumpul dalam rangka Konferensi Aktivis Palestina Asia Pasifik untuk Al Quds dan Palestina.
Para aktivis pembela Palestina ini berasal dari berbagai negara seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Maladewa. Kehadiran mereka yang diinisiasi oleh Koalisi Perempuan Indonesia Peduli Al-Aqsha (KPIPA) sekaligus memperingati 70 tahun penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
