Kisah Siswa Terlibat Tawuran yang Kini Mengikuti Pelatihan di Barak Militer Rindam Siliwangi
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG BARAT — R (16) seorang siswa SMA/SMK dari Sukabumi, Jawa Barat, harus menjalani pembinaan langsung di barak militer Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama dua minggu. Siswa kelas XII ini mengikuti pendidikan karakter setelah terlibat dalam insiden tawuran.
Dengan persetujuan orang tua, R akhirnya setuju untuk digembleng oleh anggota TNI bersama ratusan siswa SMA/SMK lainnya dari berbagai wilayah di Jawa Barat. Ia tiba di Barak Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi pada hari Senin (5/5).
“(Ikut) Tawuran. Disuruh orang tua (ikut pendidikan karakter). Setuju saja,” tutur R.
R awalnya merasa terkejut ketika pertama kali memasuki barak militer untuk mengikuti pendidikan karakter. Namun, ia siap menjalani berbagai materi seperti bela negara, wawasan kebangsaan, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), kedisiplinan, antinarkoba, pendidikan agama, dan lain-lain.
“Awalnya kaget pas masuk ke sini. Tapi siap karena ingin lebih baik. Bawa pelengkapan baju,” ujarnya.
Siswa lain berinisial S (17) dari Purwakarta mengungkapkan bahwa ia masuk ke barak militer atas kemauannya sendiri. Sebelumnya, ia sering bermasalah dengan kedisiplinan di sekolahnya.
“Enggak disiplin, telat terus. Ke sini atas keinginan sendiri, orang tua setuju supaya berubah,” kata S.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, menambahkan bahwa pada gelombang pertama untuk siswa SMA/SMK ini, pihaknya menyiapkan 350 kuota bagi anak-anak yang menghadapi berbagai masalah di lingkungannya.
“Yang sudah ada 210 siswa dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat, kami siapkan untuk gelombang pertama 350. Mereka sudah mendapatkan izin dari orang tua secara lisan dan tertulis,” jelas Maman.
Ia menjelaskan bahwa dari berbagai materi yang disiapkan, pihaknya menyisihkan waktu sekitar dua jam bagi siswa untuk mengikuti materi pembelajaran formal seperti di sekolah. “Setiap hari ada 2 jam untuk pembelajaran formal sesuai kurikulum sekolah. Kami ingin memastikan anak-anak tidak ketinggalan pelajaran,” ujarnya.
