Cuaca Ekstrem Mengancam Panen Gandum Rusia
BERITA TERBARU INDONESIA, MOSKOW — Kondisi cuaca ekstrem telah mengancam sektor pertanian di Rusia. Suhu yang tinggi dan sedikitnya curah hujan diperkirakan akan mempengaruhi panen gandum di wilayah penting.
Kelompok lobi pengusaha gandum Rusia mengingatkan bahwa suhu panas yang berkepanjangan dan rendahnya kelembaban tanah dapat mengganggu produktivitas tanaman, baik di musim dingin maupun musim semi. Ancaman ini muncul di tengah kerentanan ketahanan pangan Rusia setelah musim dingin yang keras.
Pekan lalu, Gubernur Rostov Oblast, Yuri Slyusar, menetapkan status darurat pertanian setelah wilayahnya terkena musim beku. Dekrit ini memungkinkan petani untuk mengajukan kompensasi kerugian.
Tidak hanya embun beku, tetapi rendahnya curah hujan juga menjadi perhatian utama. Anatoly Kolchik, Kepala cabang Serikat Gandum Rusia, menyatakan bahwa tanaman musim semi tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkembang dengan baik. “Masalah ini berdampak pada semua jenis tanaman. Mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menguat,” ujarnya, Selasa (20/5/2025).
Ancaman ini didukung oleh analisis Andrei Sizov, Direktur perusahaan konsultan pertanian Sovecon. Ia menegaskan bahwa kekurangan hujan tetap menjadi faktor paling berbahaya di wilayah Rostov. “Curah hujan baru-baru ini membantu, tetapi masih jauh dari mencukupi. Potensi hasil panen tetap di bawah rata-rata,” katanya.
Rostov menjadi wilayah ketiga yang menyatakan status darurat setelah Voronezh dan Belgorod. Tahun lalu, panen biji-bijian di Rostov turun 22 persen akibat kombinasi musim dingin ekstrem dan kekeringan, sementara panen gandum turun hingga 38 persen.
Secara nasional, produksi biji-bijian Rusia pada 2024 menyusut 14 persen. Awal tahun ini, pemerintah daerah memperkirakan panen di Rostov akan meningkat hingga 13,7 juta metrik ton—sekitar 20 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu. Namun dengan kondisi cuaca saat ini, proyeksi tersebut semakin tidak pasti.
Situasi diperparah oleh tekanan ekonomi. Olga Gorbaneva, Deputi Pertama Kementerian Pertanian Rostov, mengatakan margin keuntungan petani menyusut dari 16 persen di 2023 menjadi hanya 8 persen pada 2024. Biaya produksi naik 35 persen, sementara pendapatan hanya tumbuh 13 persen.
Meski begitu, pemerintah pusat berusaha menenangkan kekhawatiran. Menteri Pertanian Rusia, Oksana Lut, menyatakan kerusakan tanaman akibat embun beku Mei ini hanya 10 persen dari kerusakan tahun lalu. Namun, ia mengakui bahwa kekurangan kelembaban di tanah adalah risiko besar berikutnya.
