Cuaca Ekstrem di Saudi, Jamaah Haji Diminta Memperhatikan Pola Konsumsi
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Di tengah cuaca ekstrem yang terjadi di Arab Saudi selama musim haji 1446 H/2025 M, Kementerian Agama (Kemenag) mengingatkan jamaah haji Indonesia untuk lebih memperhatikan pola makan dan minum selama berada di Tanah Suci.
Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kemenag, Akhmad Fauzin, menyatakan pentingnya memenuhi kebutuhan gizi dan hidrasi demi menjaga stamina jamaah, mengingat padatnya kegiatan selama ibadah haji.
- Gelombang II Jamaah Haji Dimulai di Jeddah dengan Kedatangan 14 Kloter
- Jamaah Haji Indonesia Terpisah di Madinah Diberangkatkan ke Makkah
- Gaya Erdogan dan Macron Berjabat Tangan Hebohkan Warganet, Ada Apa?
“Tahun ini, jamaah haji Indonesia mendapatkan total 127 kali layanan makan. Rinciannya, 84 kali di Makkah, 27 kali di Madinah, serta 15 kali makan dan satu kali snack berat saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina,” ujar Fauzin dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (17/5/2025).
Menu makanan disusun dengan memperhatikan cita rasa Nusantara. Setiap paket makanan menyediakan nasi, lauk seperti ayam atau daging, sayuran, buah, air mineral, serta sambal khas Indonesia. Proses penyajian dan distribusi makanan diawasi oleh tim konsumsi dan petugas haji untuk memastikan makanan yang diberikan sehat, halal, dan bergizi.
Meskipun layanan konsumsi sudah tersedia secara teratur, Fauzin mengingatkan jamaah untuk tetap disiplin dalam mengonsumsi makanan. “Harap konsumsi makanan sesuai jadwal yang tertera pada kemasan. Jangan menunda terlalu lama karena bisa berdampak pada kelayakan makanan,” ucapnya.
Distribusi makanan dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi pukul 05.00–08.00 Waktu Arab Saudi (WAS), siang pukul 12.00–14.00 WAS, dan malam pukul 17.00–19.00 WAS.
Selain itu, jamaah juga diingatkan untuk tidak berlebihan dalam makan dan lebih banyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi. Makanan sebaiknya tidak disimpan terlalu lama di kamar mengingat suhu tinggi di Arab Saudi dapat mempercepat pembusukan makanan yang berisiko mengganggu kesehatan.
“Jika ada gejala seperti mual, diare, atau kehilangan nafsu makan, segera lapor ke petugas kloter atau tenaga kesehatan,” kata Fauzin.
