Pendanaan Iklim Terbesar di Dunia Dorong Rencana Investasi
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON — Green Climate Fund (GCF), lembaga pendanaan multilateral terbesar untuk isu iklim, mengumumkan rencana investasi terbesar sepanjang sejarah, sekitar 1,2 miliar dolar AS untuk 17 proyek di negara-negara berkembang, terutama di kawasan Asia dan Afrika. Tujuan utama dari pendanaan ini adalah membantu negara-negara miskin dalam menghadapi dampak pemanasan global.
Selain itu, dana ini akan mendukung negara-negara berkembang dalam mencapai target pengurangan emisi dan beradaptasi dengan kondisi iklim yang berubah dengan cepat. GCF juga mempromosikan pembangunan berkelanjutan dan inklusif untuk meminimalkan dampak perubahan iklim tanpa menghambat kemajuan ekonomi dan sosial.
- Uji Coba Car Free Night Dikaji Ulang
- 5.000 Pendaftar Baru per Bulan, Lion Parcel Perkuat Jaringan Logistik Inklusif dan Berkelanjutan
- Kritikan Keras Presiden La Liga untuk Piala Dunia Antarklub
Keputusan ini diambil di tengah penurunan tajam bantuan pembangunan global, termasuk pemotongan besar dari Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. OECD memproyeksikan bahwa bantuan pembangunan resmi (ODA) akan turun 17 persen pada tahun 2025, setelah penurunan 9 persen di tahun 2024.
“Di saat aksi iklim kolektif semakin dibutuhkan, GCF berkomitmen untuk melaksanakan mandatnya,” kata ketua GCF Syeni Nafo dalam pernyataannya, Sabtu (5/7/2025).
GCF mengalokasikan dana sebesar 227 juta dolar AS untuk memperluas pasar obligasi hijau di 10 negara. Obligasi hijau ini digunakan sebagai instrumen untuk mendanai proyek-proyek yang berkontribusi pada pengurangan perubahan iklim dan pelestarian lingkungan.
Di Asia Selatan, GCF berinvestasi sebesar 200 juta dolar AS untuk fasilitas pembiayaan hijau di India yang mendukung pengembangan energi terbarukan dan efisiensi energi. Di Afrika Timur, GCF menyalurkan 150 juta dolar AS untuk sistem pangan yang mendukung sekitar 18 juta orang.
Dengan tambahan investasi ini, portofolio investasi GCF mencapai 18 miliar dolar AS yang tersebar di 133 negara. Hingga saat ini, total dana yang dijanjikan kepada GCF mencapai 29,9 miliar dolar AS, dan 21 miliar dolar AS telah dibayarkan oleh negara-negara donor.
Selain menambah jumlah dana, dewan GCF berencana mempercepat proses akreditasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai organisasi mitra seperti lembaga multilateral dan Direct Access Entities (DAE), lembaga lokal di negara berkembang yang terakreditasi GCF untuk mengelola dana secara langsung.
GCF berencana mempercepat waktu akreditasi DAE dari rata-rata 30 bulan menjadi 9 bulan atau kurang. Dengan merevisi prosedur dan memindahkan sebagian uji tuntas ke tahap proyek, pemeriksaan detail akan dilakukan setelah pendanaan awal disetujui, bukan sebelumnya.
Berita Lainnya:
- Kemendagri Ajak Swasta Rancang Kajian Aspal Plastik untuk Jalan Daerah
- Jateng Bakal Punya 2 PLTS Terapung Baru, Ini Lokasinya
- Komitmen ESG Pertamina, Rumah Sakit Kapal Jangkau Warga Terpencil Papua
- Usung Nilai ESG, BRI Dukung UMKM Teh Lokal Tembus Pasar Ekspor
- Gelombang Panas Ancam Pertanian dan Industri China, Suhu Capai 40 Derajat Celsius
