Darah dan Urine Bisa Mengungkap Seberapa Banyak Anda Mengonsumsi Junk Food
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Darah dan urine ternyata menyimpan banyak informasi tentang pola makan seseorang, terutama terkait konsumsi makanan cepat saji.
Penelitian terbaru dari National Cancer Institute mengungkap bahwa para peneliti telah menemukan jejak kimia dalam cairan tubuh yang dapat secara akurat memprediksi seberapa besar konsumsi makanan ultraolahan (UPF) seseorang. Temuan ini membuka wawasan baru mengenai dampak makanan olahan terhadap kesehatan.
Penelitian yang dipublikasikan di PLOS Medicine menunjukkan bahwa makanan ultraolahan menjadi sumber utama kalori bagi penduduk Amerika Serikat. Walaupun demikian, dampaknya terhadap kesehatan belum sepenuhnya dimengerti. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya menemukan penanda biologis dalam darah dan urine yang dapat secara tepat memprediksi tingkat konsumsi UPF.
Saat ini, lebih dari separuh asupan kalori harian penduduk di Amerika Serikat berasal dari makanan olahan. Produk-produk ini, dikenal sebagai UPF, adalah makanan siap saji atau siap masak yang menggunakan bahan-bahan yang jarang ditemukan di dapur rumah, seperti sirup jagung tinggi fruktosa, minyak terhidrogenasi, dan berbagai zat tambahan untuk memperkaya rasa serta tekstur. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa konsumsi UPF yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.
Untuk menggali lebih dalam, tim peneliti menganalisis sampel darah dan urine dari 718 peserta dewasa berusia 50 hingga 74 tahun yang terlibat dalam studi Interactive Diet and Activity Tracking in AARP (IDATA). Para peserta diminta mencatat asupan makanan mereka selama 24 jam di beberapa waktu selama 12 bulan sambil memberikan sampel darah dan urine setiap enam bulan sekali.
Para ilmuwan mengukur lebih dari 1.000 metabolit yang berbeda dalam setiap sampel. Hasilnya menarik karena mereka menemukan bahwa hampir 200 metabolit dalam darah dan sekitar 300 metabolit dalam urine memiliki korelasi signifikan dengan tingkat konsumsi UPF. Metabolit-metabolit ini meliputi senyawa yang berperan dalam metabolisme lipid, asam amino, karbohidrat, vitamin, serta xenobiotik, yakni zat asing seperti bahan tambahan makanan.
Peneliti kemudian menggunakan metode statistik untuk menciptakan sebuah “skor poli-metabolit”. Ini adalah gabungan metabolit tertentu yang secara bersama mampu memprediksi konsumsi UPF dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi. Skor ini kemudian divalidasi menggunakan data dari uji klinis terpisah, di mana 20 peserta secara acak diberikan diet yang terdiri dari 80 persen makanan ultra-olahan atau makanan tanpa kandungan ultra-olahan selama dua pekan, sebelum beralih ke pola makan sebaliknya.
Tim pengamat mencatat bahwa skor tersebut mengalami perubahan signifikan saat individu berganti antara pola makan tinggi UPF dan pola makan tanpa UPF. Ini menunjukkan bahwa ketika seseorang mengubah jenis pola makannya, pola metabolit dalam tubuhnya juga berubah sesuai dengan jumlah makanan ultra-olahan yang dikonsumsi. Dengan kata lain, tubuh kita benar-benar “merekam” apa yang kita makan.
Beberapa penanda konsumsi UPF yang paling menonjol adalah senyawa bernama N6 karboksimetillisin, yang telah dikaitkan dengan risiko diabetes dan penyakit jantung. Ironisnya, para peneliti juga menemukan bahwa kadar beberapa senyawa bermanfaat yang biasanya terdapat dalam sayuran seperti brokoli dan kubis Brussel menurun pada individu yang mengonsumsi UPF lebih banyak.
Ada juga temuan menarik lainnya. Salah satu metabolit yang menunjukkan hubungan positif dengan konsumsi UPF adalah levoglucosan, yaitu senyawa yang dihasilkan saat selulosa terbakar. Para peneliti menduga bahwa senyawa ini mungkin berasal dari bahan kemasan makanan, yang mengindikasikan bahwa konsumen makanan ultra-olahan juga bisa terpapar zat-zat dari kemasan selain dari makanan itu sendiri. Ini membuka dimensi baru tentang potensi risiko kesehatan dari makanan olahan.
Para peneliti menyatakan bahwa tanda-tanda metabolit ini tidak hanya mencerminkan tingginya konsumsi makanan ultra-olahan, tetapi juga secara tidak langsung menunjukkan rendahnya asupan makanan utuh. Peserta yang mengonsumsi lebih banyak UPF cenderung memiliki tingkat konsumsi serat, vitamin, dan mineral yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi UPF lebih sedikit.
Penemuan biomarker ini berpotensi mengubah cara kita mempelajari pola makan dan kesehatan. Metode ini menyediakan cara yang lebih akurat bagi peneliti untuk mengukur jumlah makanan ultraolahan yang dikonsumsi seseorang tanpa harus bergantung pada laporan mandiri, yang sering kali rentan terhadap kesalahan atau bias. Temuan ini dinilai sangat penting di tengah perubahan cepat menuju sistem pangan industri yang didominasi oleh produk-produk praktis, tahan lama, dan sangat menggugah selera.
