Denmark: Eropa Harus Segera Beralih ke Energi Hijau
BERITA TERBARU INDONESIA, COPENHAGEN — Menteri Energi dan Iklim Denmark, Lars Aagaard, menekankan bahwa negara-negara Eropa harus mempercepat transisi ke energi hijau meskipun dihadapkan pada tekanan anggaran akibat peningkatan belanja militer. Pernyataan ini disampaikan menjelang Denmark memimpin negosiasi terkait target iklim Uni Eropa.
Aagaard menyatakan, “Menghambat transisi hijau Eropa bukanlah solusi untuk tantangan iklim dan keamanan,” pada hari Jumat (27/6/2025).
Uni Eropa dijadwalkan untuk menetapkan target baru dalam mengurangi emisi karbon hingga 90 persen pada tahun 2040 dibandingkan dengan tingkat tahun 1990. Namun, beberapa negara anggota seperti Polandia dan Prancis menyatakan bahwa target ini terlalu ambisius mengingat meningkatnya beban anggaran nasional.
Aagaard menegaskan bahwa tantangan jangka pendek seperti peningkatan pengeluaran untuk pertahanan tidak seharusnya mengalihkan perhatian dari agenda energi bersih. Ia menekankan pentingnya daya saing Eropa yang terletak pada peningkatan penggunaan listrik dan kemampuan menghasilkan energi sendiri dari sumber terbarukan serta nuklir.
Denmark akan memegang presidensi bergilir Uni Eropa selama enam bulan mulai Juli 2025, termasuk memimpin negosiasi iklim untuk target tahun 2040. Aagaard mengakui bahwa proses ini akan berlangsung di tengah ketegangan geopolitik dan peningkatan anggaran pertahanan pasca-invasi Rusia ke Ukraina.
Ia juga mengingatkan bahwa penguatan kapasitas militer bukanlah sesuatu yang patut dirayakan, melainkan respons terhadap ancaman nyata. Demikian pula, transisi energi hijau bukanlah agenda idealis, tetapi kebutuhan mendesak karena dampak serius dari perubahan iklim.
Tekanan terhadap kebijakan iklim Eropa terus meningkat. Beberapa negara dan industri merasa bahwa aturan lingkungan yang ketat terlalu membebani sektor ekonomi. Beberapa kebijakan bahkan ditunda atau dilonggarkan untuk mengurangi resistensi politik dan menjaga stabilitas ekonomi.
Meskipun demikian, target iklim 2040 dianggap sebagai panduan penting untuk memastikan Uni Eropa tetap berada di jalur menuju netralitas karbon pada 2050.
