Dikritik DPR karena Kurang Inovasi, BPKH: Kami Menjaga Kepercayaan Umat, Bukan Mengejar Keuntungan Besar
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Chief Investment Officer Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH), Indra Gunawan, merespons kritik dari Ketua Komisi VIII DPR RI, Marwan Dasopang, yang menilai pengelolaan dana haji terlalu berhati-hati dan kurang inovatif.
Indra menyatakan bahwa prinsip kehati-hatian yang diterapkan BPKH bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk perlindungan terhadap dana umat yang dipercayakan kepada mereka.
- Mengapa Orang Yahudi Menganggap Jibril Musuh Bagi Mereka?
- Kepala Batu, Israel Memilih Opsi Operasi Militer Daripada Diplomasi untuk Menyelamatkan Sandera
- Serbu Al Aqsa Bersama Ribuan Pemukim, Ben-Gvir: Kami Tidak Akan Puas Hingga Kuil Suci Berdiri
“Kami tidak memiliki saham, tidak ada cadangan kerugian, dan tidak memiliki ekuitas seperti lembaga keuangan lainnya. Dana yang kami kelola adalah titipan umat. Jika terjadi kerugian, tanggung jawabnya bersifat tanggung renteng sesuai amanat undang-undang. Ini bukan sekadar bermain aman, tetapi tentang akuntabilitas dan tanggung jawab hukum,” ujar Indra saat dihubungi BERITA TERBARU INDONESIA, Ahad (3/8/2025).
Indra juga menyebutkan bahwa selama tujuh tahun berdiri, BPKH tidak pernah mengalami kredit macet atau investasi bermasalah. Audit dari BPK menunjukkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) secara konsisten.
“Kami tidak ingin terjun ke investasi spekulatif hanya untuk mengejar keuntungan tinggi, yang malah bisa berisiko kerugian total,” katanya.
Dia mencontohkan negara lain seperti Malaysia yang mengalokasikan lebih dari 50 persen investasinya ke sektor riil, tetapi pernah mengalami penurunan imbal hasil hingga 1,75 persen.
“Jadi, investasi langsung tidak selalu menjamin hasil lebih besar. Justru risiko kerugiannya bisa sangat tinggi, dan itu yang kami hindari,” jelasnya.
Indra juga menanggapi kritik Marwan mengenai dominasi investasi pada Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) yang dianggap menghasilkan imbal hasil rendah. Ia menegaskan bahwa saat ini SBSN masih menjadi instrumen yang paling aman dan likuid, dengan imbal hasil kompetitif sekitar 7,5 hingga 8,5 persen.
“Coba cek lembaga publik lain yang sukses berinvestasi di sektor riil. Hampir tidak ada. Sementara kami, dengan investasi di SBSN, masih bisa memberikan nilai manfaat yang cukup dan terukur tanpa mencetak volatilitas harga seperti saham,” tandasnya.
