Setelah Dua Tahun di Istanbul, Utusan Aceh Akhirnya Diterima oleh Khalifah Turki Utsmani
BERITA TERBARU INDONESIA,JAKARTA — Kisah dalam buku Bustan al-Salatin ditulis di Aceh pada tahun 1638 oleh Syekh Nuruddin Ar-Raniri, yang saat itu berperan sebagai pembantu Sultan Alauddin Syah. Buku ini diakui sebagai salah satu karya Aceh abad ke-16 yang paling dapat dipercaya.
Menurut catatan Nuruddin Ar-Raniri, hubungan antara Turki Utsmani dan Aceh dimulai pada masa pemerintahan Sultan Alauddin (1537-1571). Kekaisaran Turki Utsmani mengirimkan duta-dutanya ke berbagai negara Islam di India dan Jawa untuk mengusir Portugis dari wilayah tersebut.
Dalam buku tersebut, pemimpin Turki Utsmani, dikenal sebagai Sultan Rum, mengirimkan para teknisi militer ke Aceh untuk mengajarkan cara membuat senjata dan meriam. Dengan bantuan Turki ini, Sultan Alauddin di Aceh mampu meningkatkan kekuatan militer dan mencegah serangan Portugis.
Snouck Hurgronje, seorang Orientalis Belanda, memberikan perspektif baru mengenai hubungan antara Kekaisaran Turki Utsmani dengan Kesultanan Aceh di abad ke-16 berdasarkan informasi yang diperolehnya dari wilayah tersebut.
Menurut Snouck, salah satu Sultan Aceh mengirimkan sebuah kapal besar ke Istanbul dengan membawa lada hitam dalam jumlah besar bersama dengan beberapa utusan sultan. Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk memperkenalkan Aceh kepada Sultan Turki Utsmani, menarik perhatian sang Sultan terhadap Aceh, serta menunjukkan kesetiaan Aceh kepada Sultan Turki Utsmani yang dalam manuskrip Aceh dikenal juga sebagai Raca Rum (Raja Rum) dan Khalifah Umat Islam.
Sayangnya, di Istanbul tidak ada yang pernah mendengar tentang Aceh. Utusan Sultan Aceh tersebut menetap di Istanbul dan berusaha meyakinkan petugas istana bahwa mereka datang untuk bertemu dengan Sultan Turki Utsmani. Namun, mereka tidak dapat meyakinkan petugas istana bahwa mereka adalah utusan resmi. Akibatnya, meskipun telah tinggal di sana selama dua tahun, mereka tetap tidak dapat bertemu dengan Sultan Turki Utsmani.
