Dunia Belum Berhasil Kurangi Emisi, Bahan Bakar Fosil Masih Jadi Tumpuan
BERITA TERBARU INDONESIA, LONDON — Emisi karbon dioksida dari sektor energi kembali mencapai rekor tertinggi tahun lalu, menandai rekor keempat berturut-turut. Laporan statistik tahunan Energy Institute yang diterbitkan pada Kamis (26/6/2025), menunjukkan bahwa meskipun energi terbarukan mengalami pertumbuhan pesat, banyak negara masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Laporan yang disusun bersama KPMG dan Kearney ini menyoroti tantangan besar dalam transisi energi global, terutama di tengah konflik geopolitik yang sedang berlangsung di Ukraina dan Timur Tengah. Perang di Ukraina mendorong negara-negara Barat untuk menghentikan pasokan energi dari Rusia, sementara ketegangan di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan global.
- Laporan Ini Mengungkapkan Bank Elite Global Mengucurkan Dana Besar ke Industri Fosil
- CREA Menyoroti Kenaikan Pembangkit Listrik Fosil dalam RUPTL
- Porsi Fosil 24 Persen dalam RUPTL, ESDM: Batu Bara Tetap Dibutuhkan
“Tahun lalu merupakan titik balik lain bagi energi global, didorong oleh gejolak geopolitik yang meningkat,” ujar Romain Debarre, konsultan Kearney yang turut menyusun laporan tersebut.
Tahun 2024 juga tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, suhu rata-rata global melampaui batas 1,5 derajat Celsius dibandingkan dengan masa pra-industri.
Secara keseluruhan, pasokan energi dunia dari berbagai sumber meningkat dua persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini meliputi pasokan dari minyak, gas, batu bara, nuklir, hidro, dan energi terbarukan. Lonjakan seperti ini terakhir kali terjadi pada 2006.
Lonjakan konsumsi energi global ini turut mendorong emisi karbon dari sektor energi naik satu persen, mencapai 40,8 gigaton karbon dioksida ekuivalen. Angka ini melampaui rekor yang dicatatkan pada tahun sebelumnya.
Di antara semua jenis bahan bakar fosil, gas alam mencatat pertumbuhan tertinggi dalam pembangkitan listrik, naik 2,5 persen. Batu bara juga naik 1,2 persen dan tetap menjadi sumber utama energi listrik global. Konsumsi minyak mengalami peningkatan di bawah satu persen.
Sementara itu, energi terbarukan tumbuh signifikan sebesar 16 persen, dengan laju pertumbuhan sembilan kali lebih tinggi dibandingkan peningkatan total permintaan energi dunia.
Namun, menurut para analis Energy Institute, pertumbuhan energi terbarukan saat ini masih belum cukup untuk memenuhi target global. Dunia dianggap belum berada di jalur untuk melipatgandakan kapasitas energi terbarukan pada 2030, sebagaimana disepakati dalam Pertemuan Perubahan Iklim PBB (COP28) di Dubai pada 2023 lalu.
“COP28 menetapkan visi ambisius untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan tiga kali lipat pada 2030, namun realisasinya belum merata. Meski pertumbuhannya pesat, lajunya masih belum mencukupi,” kata Wafa Jafri, konsultan energi dari KPMG.
