Penggunaan Energi Terbarukan Memicu Penurunan Emisi Karbon di Cina
BERITA TERBARU INDONESIA, BEIJING — Pada kuartal pertama 2025, Cina berhasil mencatat penurunan emisi karbon di tengah meningkatnya permintaan energi. Penurunan ini terutama didorong oleh peningkatan pemanfaatan energi terbarukan.
Sebagai negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, Cina telah berkomitmen untuk mencapai puncak emisi pada tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon pada tahun 2060. Investasi besar-besaran dalam energi surya dan angin yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan dampaknya.
Menurut analisis dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), Lauri Myllyvirta, emisi karbon Cina turun 1,6 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2025. Jika dihitung sejak Maret 2024, emisi Cina tercatat turun 1 persen dalam setahun.
Penurunan ini cukup signifikan meski terjadi di tengah lonjakan konsumsi listrik. Berdasarkan laporan Carbon Brief, permintaan listrik di Cina meningkat 2,5 persen pada kuartal pertama. Sebelumnya, penurunan emisi hanya terjadi saat kebijakan penutupan akibat Covid-19 pada 2022 mengurangi permintaan energi.
“Pertumbuhan pembangkit energi bersih kini melampaui pertumbuhan rata-rata permintaan listrik, baik jangka pendek maupun panjang. Ini secara langsung menekan konsumsi bahan bakar fosil,” ujar Myllyvirta.
Ini adalah kali pertama penurunan emisi di Cina dipicu secara langsung oleh penggunaan energi terbarukan. Emisi dari sektor kelistrikan turun 5,8 persen, cukup untuk menutupi lonjakan emisi dari sektor baja dan kimia yang masih sangat bergantung pada batu bara.
Namun, laporan tersebut memperingatkan bahwa tren positif ini bisa berubah jika pemerintah Cina memutuskan untuk merangsang sektor-sektor yang intensif karbon sebagai respons terhadap perang dagang dengan Amerika Serikat, yang dapat menyebabkan peningkatan emisi kembali.
Meski mengalami penurunan, Cina masih dinilai jauh dari jalur yang diperlukan untuk mencapai target pengurangan intensitas karbon sebesar 65 persen pada 2030 dibandingkan tingkat tahun 2005. Intensitas karbon mengukur jumlah emisi karbon per unit Produk Domestik Bruto (PDB).
Target ini merupakan bagian dari komitmen Cina dalam Perjanjian Paris yang bertujuan mengurangi dampak krisis iklim global.
“Jalur emisi karbon di masa depan masih belum pasti, tergantung pada dinamika di tiap sektor ekonomi dan respons kebijakan terhadap tekanan eksternal seperti tarif dagang AS,” kata Myllyvirta.
Meski demikian, Cina tetap dianggap sebagai pemimpin penting dalam agenda perubahan iklim global, posisi yang berlawanan dengan kebijakan Presiden AS saat ini, Donald Trump, yang menarik Amerika dari berbagai kesepakatan iklim dan mendorong penggunaan bahan bakar fosil.
