Fadli Zon: The Palace Sebagai Model Pelestarian Warisan Sejarah Berkelanjutan
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa The Palace Museum yang berada di Forbidden City, Beijing adalah contoh penerapan pelestarian warisan sejarah yang terus berkesinambungan melalui perawatan fisik bangunan, pengelolaan koleksi, serta penyampaian narasi sejarah kepada masyarakat.
“Kita bisa melihat bagaimana Forbidden City menjadi contoh nyata praktik pelestarian dan konservasi yang dilakukan secara terus-menerus. Mereka melakukan perawatan dan renovasi berkali-kali untuk menjaga nilai sejarahnya, sambil tetap memberikan pengalaman edukatif bagi para pengunjung,” ungkap Fadli dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Senin.
- Media Israel: Hamas Aktifkan Strategi Fedayeen, Serang Langsung Tentara IDF Siap Korbankan Nyawa
- Daftar Peraih Penghargaan Piala Dunia Antarklub 2025, Cole Palmer Pemain Terbaik
- Begini Strategi Kemendag Amankan Pasar Domestik dan Perluas Ekspor
Dalam kunjungan budaya ke Tiongkok, Menbud berdialog dengan Direktur The Palace Museum, Wang Xudong, dan melihat museum yang terletak di Forbidden City, Beijing serta membahas kerja sama strategis di bidang permuseuman yang telah terjalin antara The Palace Museum dan museum-museum di Indonesia.
Salah satu hubungan yang telah ada adalah kerja sama dengan Museum Nasional Indonesia. Dalam lawatannya, ia menekankan pentingnya mempelajari praktik pengelolaan dari museum-museum besar dunia.
“Kami menekankan pentingnya kolaborasi jangka panjang dalam pelestarian warisan budaya, pengelolaan museum, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Wang Xudong dari The Palace Museum juga menyarankan adanya pertukaran tenaga ahli, akademisi, dan peneliti di bidang permuseuman antara Indonesia dan Tiongkok.
Ia juga mengundang Indonesia untuk mengirimkan profesional di bidang museum untuk melakukan residensi di The Palace Museum.
The Palace Museum adalah salah satu museum istana terbesar dan paling bersejarah di dunia. Museum ini berada di Forbidden City di Beijing yang dulunya adalah kompleks istana kaisar Tiongkok selama hampir 500 tahun, dari Dinasti Ming (1368–1644) hingga Dinasti Qing (1644–1912). Pembangunannya dimulai pada 1406 dan selesai pada 1420, terdiri dari sekitar 980 bangunan di area seluas 72 hektar.
Forbidden City dirancang sebagai pusat kekuasaan politik dan simbol kosmos Tiongkok, dengan tata letak simetris, aula upacara megah, taman, paviliun, gerbang-gerbang ikonis seperti Meridian Gate (South Gate), Gate of Divine Might (North Gate), dan aula penting seperti Hall of Supreme Harmony.
The Palace Museum didirikan secara resmi pada tahun 1925 setelah kekaisaran berakhir untuk melestarikan dan memamerkan artefak seni, dokumen, dan benda upacara kekaisaran.
Koleksi museum mencapai lebih dari 1,86 juta objek, termasuk lukisan klasik, kaligrafi, keramik, patung perunggu, giok, tekstil, dan arsip kekaisaran. Museum ini menjadi salah satu destinasi budaya paling populer di dunia dengan jumlah pengunjung lebih dari 17 juta orang tiap tahun.
Mayoritas bahan bangunan di dalam kompleks ini terbuat dari kayu, sehingga konservasi dan renovasi telah dilakukan berulang kali untuk memastikan kelestarian kompleks bersejarah ini, termasuk restorasi besar setelah kebakaran pada masa Dinasti Qing.
Tahun ini, The Palace Museum merayakan 100 tahun berdirinya sebagai museum istana, dengan berbagai pameran tematik, program edukasi, dan perayaan budaya berskala internasional.
Kunjungan budaya ini menjadi momen refleksi penting untuk terus meningkatkan museum di Indonesia sebagai ruang edukasi, narasi, dan etalase utama sebuah bangsa.
Pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk menjadikan museum sebagai pusat pengetahuan sejarah dan budaya yang dapat dinikmati lintas generasi.
