Perbedaan Proposal Gencatan Senjata antara Hamas dan Israel
BERITA TERBARU INDONESIA, GAZA – Amerika Serikat mengumumkan bahwa pihak Israel telah menyetujui proposal gencatan senjata terbaru. Namun demikian, Hamas menyatakan bahwa terdapat sejumlah perbedaan dengan proposal yang mereka terima sebelumnya.
Pemerintah Israel telah setuju dengan usulan yang dibawa utusan AS, Steve Witkoff, tentang gencatan senjata dan pertukaran tahanan di Gaza, sementara Hamas saat ini masih mempelajari usulan tersebut. Media Israel melaporkan bahwa proposal baru ini lebih menguntungkan Tel Aviv dibandingkan dengan proposal sebelumnya.
- Pemboman Israel Menghalangi Keberangkatan 800 Jamaah Haji Yaman
- ‘Gaza Tidak Akan Lenyap dan Israel Telah Kehilangan Hal yang Tak Tergantikan’
- Indonesia-Israel Rundingkan Normalisasi? Ini Kata Menteri Yusril
Aljazirah telah merilis informasi rinci mengenai proposal baru dari Amerika. Sebelumnya, Hamas juga telah berbagi proposal yang mereka terima. Berikut ini adalah perbedaan dengan dokumen kesepakatan awal yang diperoleh BERITA TERBARU INDONESIA.
Durasi Gencatan Senjata
Dalam proposal baru, gencatan senjata akan berlangsung selama 60 hari. Presiden AS Donald Trump menjamin komitmen Israel terhadap gencatan senjata selama periode ini. Sementara dalam proposal awal yang disampaikan Hamas, gencatan senjata harus dijamin berlangsung secara permanen.
Pembebasan Sandera
Dalam proposal awal, Hamas menyetujui pembebasan 10 sandera yang masih hidup dan 16 jenazah sandera. Dalam proposal baru, 10 sandera Israel yang masih hidup dan 18 sandera yang telah meninggal, dari daftar “58 sandera,” akan dibebaskan pada hari pertama dan ketujuh.
Separuh dari sandera yang masih hidup dan yang telah meninggal (5 masih hidup dan 9 meninggal) akan dibebaskan pada hari pertama perjanjian. Separuh sandera yang tersisa (5 masih hidup dan 9 meninggal) akan dibebaskan pada hari ketujuh.
Bantuan Kemanusiaan
Dalam proposal yang disepakati Hamas, bantuan harus masuk tanpa batasan sesuai kesepakatan pada 17 Januari 2025 lalu. Dalam proposal baru, bantuan akan dikirim ke Gaza segera setelah Hamas menerima perjanjian gencatan senjata. Setiap kesepakatan yang dicapai mengenai bantuan kepada penduduk sipil akan dihormati selama jangka waktu perjanjian tersebut. Bantuan akan didistribusikan melalui saluran yang disepakati, termasuk PBB dan Bulan Sabit Merah.
Penghentian Serangan Udara
Dalam proposal yang disepakati Hamas, seluruh aktivitas penerbangan Israel di atas Gaza harus dihentikan selama 60 hari pertama gencatan senjata. Sedangkan dalam proposal baru, wilayah udara (militer dan pengintaian) di Jalur Gaza hanya ditangguhkan selama 10 jam per hari, atau 12 jam per hari selama masa pertukaran tahanan dan orang hilang.
Penarikan Pasukan Israel
Hamas menyetujui proposal awal yang menyatakan seluruh pasukan Israel akan ditarik dari Gaza sebelum sandera dibebaskan. Sedangkan dalam proposal baru, ini dilakukan pada hari pertama, setelah pembebasan tahanan Israel (5 hidup dan 9 tewas). Pasukan Israel juga masih akan ditempatkan di bagian utara Jalur Gaza dan di koridor Netzarim, berdasarkan peta yang disepakati.
Pada hari ketujuh, setelah pembebasan para tahanan Israel (5 hidup dan 9 tewas), pemindahan pasukan akan dilakukan di bagian selatan Jalur Gaza sesuai dengan Pasal III tentang bantuan kemanusiaan, berdasarkan peta yang telah disepakati. Tim teknis akan bekerja untuk menentukan batas akhir penempatan kembali selama negosiasi jarak dekat.
Pemerintahan setelah Gencatan
Dalam proposal awal yang disepakati Hamas, pengelolaan Gaza setelah perang akan dilakukan pihak independen Palestina yang terdiri dari para teknokrat. Mereka juga akan mengawasi rekonstruksi Gaza. Sementara dalam proposal baru, disebut akan dilakukan “pengaturan keamanan jangka panjang” yang memungkinkan Israel tetap mengendalikan keamanan di Gaza.
