Haji dan Ukhuwah Islamiyah
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Sudah menjadi ketetapan Ilahi bahwa setiap ibadah dalam Islam mengandung hikmah yang amat berharga. Ada hikmah yang nyata dan bisa diketahui oleh semua Mukmin, dan ada hikmah yang tersembunyi, hanya dimengerti oleh orang-orang yang berilmu mendalam.
Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang hikmahnya dapat dilihat dengan jelas, seperti pengorbanan harta dan jiwa, serta kepedulian terhadap sesama. Selain itu, terdapat hikmah yang lebih dalam yang hanya dapat dipahami oleh para ulama yang istimewa.
- Antisipasi Kenaikan Harga Menjelang Idul Adha
- Bekal Terbaik untuk Ibadah Haji
- Kesepakatan Amerika dengan Hamas
Haji yang diterima atau mabrur adalah haji yang dijalankan dengan sempurna, memenuhi semua syarat, wajib, dan rukunnya. Tidak ada rafats (perkataan kotor), fusuq (perbuatan durhaka), dan jidal (pertengkaran) selama menjalankan ibadah ini.
“(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata jorok (rafats), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS al-Baqarah: 197).
Barang siapa yang melakukan ibadah haji karena Allah kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan fasik atau durhaka, ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya” (Muttafaq ‘alaih).
Haji yang dilakukan dengan memenuhi semua syarat, rukun, wajib, dan sunahnya akan menghasilkan Muslim yang bertakwa, mencerminkan keindahan dalam semua tindakannya. Tujuan utama haji adalah membersihkan diri dari syirik dan perilaku tercela, serta memperkaya diri dengan akhlak terpuji dan takwa.
