Cegah Kasus Belatung pada Makanan, BGN Imbau SPPG Tidak Sertakan Sayur Mentah dalam Ompreng MBG
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) memberikan imbauan kepada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar tidak memasukkan sayur atau buah mentah dalam wadah (food tray) Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk mencegah insiden belatung dalam makanan. Dewan Pakar Bidang Gizi Ikeu Tanziha, dalam konferensi pers daring di Jakarta, Sabtu (19/7/2025), menjelaskan bahwa jika makanan telah dimasak dan langsung disalurkan, belatung tidak akan hidup, sebab memasak dalam suhu tinggi dapat membunuh belatung atau bakteri.
“Kehadiran belatung dalam ompreng mungkin disebabkan oleh bahan mentah yang dimasukkan ke food tray, seperti buah-buahan atau sayuran. Mungkin ada jeruk yang tidak terpantau sehingga sedikit busuk, atau sayuran mentah yang tidak dicuci terlebih dahulu dengan air panas,” ujarnya.
- Program MBG di Berastagi Sasar 3.400 Siswa
- Muhammadiyah Resmikan SPPG Seluruh Indonesia di Sleman, Siap Dukung Program MBG
- Kunjungan ke Brasil, Presiden Prabowo: PNAE Model MBG Buat Anak dan Ibu Hamil
Untuk itu, Ikeu menekankan BGN mendorong semua SPPG agar jika akan memasukkan sayuran dalam bentuk mentah ke dalam ompreng MBG, harus dicuci dengan bersih kemudian direndam dalam air panas.
“Sehingga jika ada belatung atau sejenisnya, akan mati atau keluar dengan sendirinya. Sebaiknya, hindari memasukkan buah-buahan mentah seperti jeruk atau pisang ke dalam food tray, karena dapat memicu masuknya belatung dan menjadi terkontaminasi bakteri dari kotoran yang masih menempel di buah-buahan,” jelasnya.
Ikeu menegaskan bahwa BGN terus mendorong semua SPPG untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap semua makanan yang akan didistribusikan untuk MBG.
Sebelumnya, beredar informasi bahwa terdapat empat siswa SMK Negeri Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang mengunggah video menunjukkan belatung dalam menu MBG yang dibagikan di sekolah mereka pada Selasa (15/7/2025). Keempat siswa tersebut telah dipanggil oleh guru Bimbingan Konseling (BK) untuk mengonfirmasi kebenaran video yang viral tersebut.
