Di Tengah Ekonomi Saat Ini, Ojol dan Kreator Konten Menjadi Penyangga PHK?
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Gedung Smesco di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan dipenuhi oleh ribuan orang yang mengikuti acara rekrutmen pengemudi ojek online (ojol) pada Selasa (17/6/2025) siang. Orang-orang dari berbagai daerah datang untuk menjadi pengemudi ojol dengan berbagai alasan. Mulai dari terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari pekerjaan sebelumnya, hingga ingin menambah tabungan untuk masa depan dan pendidikan anak.
Hariyadi (25 tahun), seorang pria asal Depok, Jawa Barat, adalah salah satu calon driver ojol yang hadir di acara tersebut. Acara ini yang diadakan oleh aplikator Grab bersama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta BPJS Ketenagakerjaan dianggap sebagai momen yang tepat baginya untuk memanfaatkan kesempatan mendapatkan pekerjaan setelah kehilangan pekerjaan sebelumnya.
“Kena lay off (PHK) bulan lalu (Mei 2025), karena perusahaan mengalami masalah dengan larangan penjualan online, penghasilan dikurangi, dan akhirnya terjadi pengurangan karyawan, jadi ya harus terima,” kata Hariyadi kepada BERITA TERBARU INDONESIA saat mengantri proses rekrutmen di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Selasa (17/6/2025).
Hariyadi mengungkapkan bahwa pekerjaan terakhirnya adalah sebagai sales di sebuah perusahaan sparepart. Di perusahaan tersebut, ia mendapatkan penghasilan beragam, termasuk uang harian, lembur, dan bulanan. Pendapatannya saat itu berada di atas upah minimum regional (UMR).
Setelah di-PHK, ia harus memikirkan cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ia mengaku tengah mencari pekerjaan baru yang lebih menjanjikan, namun hingga kini belum menemukan hasil. Oleh karena itu, ia mencoba rekrutmen mitra digital sebagai pengemudi ojol untuk mengisi waktu luangnya.
“Ini (sebagai pengemudi ojol) sambil mencari pekerjaan lain, supaya ada penghasilan sedikit-sedikit buat sehari-hari. Ngojek sambil cari kerja kan enggak masalah, yang penting ada pendapatan daripada bingung-bingung di rumah nungguin yang enggak pasti,” ungkapnya.
Berdasarkan riset kecil-kecilan yang dilakukan Hariyadi terhadap teman-temannya yang sudah lebih dulu menjadi pengemudi ojol, ia memprediksi pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp 3 juta sebulan. Meski cukup jauh dibandingkan pendapatan UMR-nya sebelumnya, menurutnya tidak masalah, selama ada pemasukan setiap hari.
“Lihat dari teman-teman, lumayan juga, bisa sampai Rp 100 ribu ke atas per hari, atau sekitar Rp 3 juta per bulan. Ya cukup-cukupin aja sih (buat kebutuhan sehari-hari),” kata pria lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tersebut.
Kisah Hariyadi mendaftar sebagai pengemudi ojol berbeda dengan Ari (31 tahun) yang juga dalam antrian di Gedung Smesco, Jakarta Selatan. Ari mengaku sudah memiliki pekerjaan tetap di salah satu perusahaan di Bekasi, Jawa Barat.
“Saya sih daftar karena memang ingin mencari tambahan penghasilan,” ungkapnya kepada BERITA TERBARU INDONESIA.
Ari mengatakan, ia mendapatkan informasi mengenai rekrutmen pengemudi ojol, yang kemudian ia sambut dengan mengisi formulir yang tersedia. Ia menjelaskan, pekerjaan sebagai pengemudi ojol dapat dimanfaatkan pada akhir pekan atau saat waktu kosong di pagi hari sebelum berangkat kerja atau sore setelah pulang kerja.
Ia bercerita bahwa dalam kesehariannya, banyak pekerjaan yang ia lakukan. Selain menjadi pekerja tetap di sebuah perusahaan, ia juga membuka toko kecil di rumahnya, serta menjadi reseller gorengan.
Saat ditanya apakah pendapatannya dari berbagai pekerjaan tersebut kurang atau hanya pas-pasan, Ari mengaku bahwa penghasilannya cukup untuk membiayai hidup sehari-hari bersama istri dan seorang anak.
Lebih lanjut, Ari mengungkapkan motivasinya untuk menyiapkan tabungan yang cukup untuk masa depan pendidikan anaknya. Juga untuk menyiapkan masa pensiunnya, mengingat hingga saat ini ia hanya menggunakan BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan. Menurutnya, jika tidak mencari tambahan untuk tabungan ke depan, kemungkinan cita-citanya akan sulit tercapai.
“Motivasi saya ingin punya tabungan atau safe money buat anak, terutama pendidikannya, untuk bisa bersekolah di swasta. Di kota metropolitan kan swasta lebih mahal. Kalau saya lihat, pendapatan saya misal buat bayar rumah saja, kayaknya enggak akan cukup untuk memasukkan anak di sekolah yang bagus,” jelasnya.
Lebih jauh, ternyata Ari juga memperhatikan faktor eksternal. Yakni mengenai perkembangan kondisi ekonomi Indonesia dan global, serta dampaknya bagi masyarakat kecil seperti dirinya. Menurut Ari, saat ini ekonomi Indonesia cukup mengalami resesi.
“Ekonomi Indonesia secara umum sekarang sudah cukup resesi ya, apalagi ditambah konflik Israel-Iran, pasti ada efeknya pada harga minyak dan kemudian harga-harga komoditas lain. Saya pikir, ini bakal tambah sulit, apalagi sehabis pandemi Corona (medio 2020-2022) masih terasa sulitnya. Makanya saya harus mencari dana-dana lebih untuk anak, takutnya biaya pendidikan disesuaikan dengan inflasi, harganya semakin naik,” jelasnya.
Ari menekankan bahwa pilihannya untuk menambah penghasilan dengan menjadi pengemudi ojol adalah kesempatan yang bisa dimanfaatkan dengan baik. Menurutnya, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, pendapatan dari mana saja, selama halal, sangat tepat dilakukan, meskipun menjadi pengemudi online yang masih cenderung minim terhadap akses perlindungan sosial.
“Enggak papa. Yang penting halal, dan biar waktu enggak kebuang sia-sia,” tegasnya.
