Pesan Imam Ghazali agar Ibadah Haji Tidak Sia-sia
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Sungguh disayangkan nasib orang yang telah menunaikan ibadah haji jika ia tidak mendapatkan apa-apa selain kelelahan dan kesusahan. Ia harus menjalani perjalanan jauh dan mengeluarkan banyak biaya, menghabiskan waktu, dan menguras tenaga, untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima ini.
“Tak satu pun Anda (yang melaksanakan haji) dapatkan selain rasa lelah dan penderitaan. Bahkan, mungkin Anda menghadapi penolakan dan pengusiran,” tulis Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali, dalam Ihya Ulum ad-Din.
Nasib seperti itu bisa menimpa jamaah haji karena kurangnya fokus dalam menjalankan ibadah tersebut. Dosa yang telah dilakukan menjadi beban yang mengganggu konsentrasi jamaah saat menunaikan ibadah haji.
Hal ini terjadi karena jamaah haji masih memiliki sesuatu yang menjadi hak orang lain, terutama harta atau barang yang diperoleh secara tidak adil. Barang tersebut harus dikembalikan kepada yang berhak.
Setelah itu, jamaah haji hendaknya bertobat dan memohon ampunan Allah. Hati harus senantiasa bersih dari dosa ketika melaksanakan ibadah yang memerlukan curahan waktu, tenaga, dan harta ini.
Jika pergi haji dengan masih menyimpan harta yang bukan haknya, maka hal ini diibaratkan seperti orang berutang yang hendak pergi. Kemudian tiba-tiba bertemu dengan penagih utang. Si penagih memegang leher pengutang sambil berteriak, “Ke mana Anda hendak pergi? Apakah Anda hendak pergi ke rumah raja diraja, sementara Anda melalaikan perintahnya dan meremehkannya? Apakah tidak malu mendatangi rumahnya?”
Apabila ingin amalan diterima dengan baik di Rumah Allah (Baitullah), jamaah haji tidak boleh mengabaikan perintah-Nya. Kembalikanlah apa yang menjadi hak orang lain dan selesaikan segala persoalan dengan baik. Semua itu membuat jamaah haji berangkat ke Tanah Suci dengan tenang. Al-Ghazali menyebutkan, jamaah haji yang tenang akan memasuki Tanah Suci dengan menampakkan wujud aslinya seperti baru dilahirkan.
