Panduan Ibadah Haji di Era Jahiliyah
BERITA TERBARU INDONESIA, TAIF–Setelah penaklukan Makkah (Fathu Makkah), Nabi Muhammad SAW menata kembali tata cara ibadah agar berhala-berhala tidak lagi ada di sekitar Ka’bah. Ini dilakukan untuk membedakan antara ibadah haji yang sesuai syariat dan yang dilakukan secara jahiliyah atau musyrik.
Menurut Abu Thalhah Muhammad Yunus Abdussttar dalam bukunya, terdapat beberapa ritual dan amalan yang menunjukkan kesungguhan Nabi untuk berbeda dari kaum musyrik, di antaranya:
- Duh! Ekonomi Indonesia Sulit Tumbuh Lima Persen, Apalagi Delapan Persen
- BPJPH: Kantin Berserifikasi Halal Perkuat Ekosistem Halal Indonesia
- Mendikdasmen Ingin Lulusan SMK Siap Bekerja dan Berwirausaha
Pertama, Talbiyah. Di masa lalu, kaum musyrikin memasukkan unsur syirik dalam talbiyah. Mereka mengatakan, “…kecuali sekutu yang engkau miliki.” Nabi mengesakan Tuhan dan menghilangkan unsur syirik dalam ibadah (HR Muslim).
Kedua, Nabi SAW melakukan wukuf bersama kaum muslimin di Arafah, berbeda dengan kaum kafir Quraisy yang wukuf di Muzdalifa sembari berkata, “kita tidak meninggalkan wukuf kecuali dari tanah haram Muzdalifah.” (HR Bukhari).
Ketiga, Nabi SAW meninggalkan Arafah setelah matahari terbenam dan bergerak dari Muzdalifah sebelum terbitnya. Berbeda dengan kaum musyrikin yang meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam dan berangkat setelah matahari terbit. Miswar bin Makhramah ra meriwayatkan bahwa di Arafah, setelah memuji dan bersyukur kepada Allah, Nabi bersabda, “Orang-orang musyrik meninggalkan tempat ini (Arafah) menjelang matahari tenggelam, ketika matahari di puncak gunung seperti surban di kepala. Ajaran kita berbeda dari mereka.” (HR Baihaqi).
Keempat, Nabi SAW memerintahkan Aisyah untuk melakukan umrah setelah haji, berbeda dengan kaum musyrikin yang hanya mengizinkan umrah setelah masuk bulan Safar. Ibnu Abbas ra menyebutkan, “Demi Allah, Rasulullah tidak berumrah di bulan Dzulhijjah kecuali untuk membedakan dengan cara pelaksanaan haji kaum musyrik.” (HR Abu Dawud).
Kelima, Nabi SAW sengaja membuat kaum musyrik tersinggung dengan menampakkan syiar Islam di tempat mereka. Karena mereka menampakkan kekufuran dan permusuhan kepada Allah dan Rasul-Nya, seperti ketika Nabi bersabda di Mina, “besok kita singgah di Khaif, tempat Bani Kinanah bersekongkol melakukan kekufuran.” (HR Bukhari).
