Iran Klaim Serang Markas Mossad di Israel
BERITA TERBARU INDONESIA, TEHERAN – Korps Pengawal Revolusi Islam menyatakan telah berhasil meluncurkan serangan rudal ke salah satu markas intelijen Israel, Mossad di Tel Aviv. IRGC mengungkapkan dalam sebuah pernyataan bahwa unit Angkatan Udara mereka melaksanakan operasi yang efektif terhadap Mossad pada dini hari Selasa.
Laporan dari kantor berita Tasnim menyebutkan, meskipun markas tersebut dilindungi oleh sistem pertahanan udara yang sangat canggih, ‘Direktorat intelijen militer tentara rezim Zionis, dikenal sebagai Aman, dan pusat Mossad di Tel Aviv, yang digunakan untuk merencanakan aksi pembunuhan dan tindakan jahat, terkena serangan IRGC.’
- Bantah Sedang Siap-siap Serang Iran, Gedung Putih: Militer AS Masih Mode Bertahan
- Perang Israel-Iran Membara, China Ingatkan AS Jangan Perkeruh Situasi
- Iran Siap Tindak Tegas Terduga Mata-Mata Israel
Di Israel, dilaporkan sekitar lima orang mengalami luka ringan saat berusaha mencapai tempat perlindungan selama tembakan rudal balistik yang diluncurkan dari Iran. Aljazirah melaporkan adanya bus yang terbakar dan dampak langsung lainnya yang tidak hanya terjadi di Tel Aviv tetapi juga di Herzliya.
Di Herzliya, sensor militer Israel melarang publikasi gambar dan informasi tentang lokasi yang diklasifikasikan sebagai situs sensitif, yang biasanya berarti bahwa situs tersebut adalah aset atau lokasi militer, intelijen, atau strategis yang tidak ingin diungkapkan oleh sensor militer Israel.
Malam itu terjadi pengetatan pembatasan sehingga informasi sulit diverifikasi. Ketika IRGC menyebut bahwa mereka menargetkan gedung intelijen di Herzliya, Mossad, dan intelijen militer Israel (Aman), klaim tersebut belum mendapat tanggapan dari pihak Israel.
Pasukan militer Iran telah melancarkan beberapa serangan rudal balasan terhadap target Israel sejak 13 Juni setelah rezim Zionis menyerang Iran. Tindakan agresi dan serangan udara rezim Zionis terhadap fasilitas nuklir, militer, dan pemukiman Iran telah menewaskan para komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil, termasuk 45 wanita dan anak-anak.
