Menjadi Perhatian Amerika, QRIS Semakin Berkembang Pesat
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Sistem pembayaran QRIS menjadi perhatian Amerika karena dianggap menghambat bisnis keuangan negara adidaya tersebut. Ini terutama karena sistem ini tidak melibatkan Visa dan Mastercard dalam transaksi digitalnya.
QRIS, atau Quick Response Code Indonesian Standard, adalah sistem pembayaran digital yang dirancang di Indonesia. Sistem ini telah berhasil diterapkan di Indonesia dan di beberapa negara lain sebagai solusi pembayaran digital yang mudah dan efisien, termasuk untuk transaksi lintas negara.
- KNEKS Bekerja Sama dengan Perbankan Syariah dan PIP untuk Memperkuat KDMP Syariah
- Kerja Sama Pariwisata dengan Prancis, Menpar: Promosi Budaya RI ke Dunia
- Pertumbuhan Wisatawan Nusantara Mencapai 12,71 Persen, Pariwisata RI Semakin Bangkit
Meskipun menjadi perhatian Amerika, sistem pembayaran ini justru semakin berkembang di Indonesia. Jumlah pengguna QRIS di Indonesia terus meningkat. Pada triwulan pertama 2025, jumlah pengguna QRIS mencapai 56,3 juta, dengan volume transaksi mencapai 2,6 miliar. Merchant yang menggunakan QRIS juga terus bertambah, mencapai 38,1 juta pada triwulan pertama 2025.
NTT
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Nusa Tenggara Timur mencatat jumlah pengguna Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di NTT mencapai 310 ribu orang pada triwulan I 2025, meningkat 30,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 305,6 ribu pengguna.
Ekonom Bank Indonesia NTT, Teguh Ersada Natail Sitepu, kepada wartawan di Kupang, Kamis, mengatakan peningkatan tersebut merupakan hasil percepatan digitalisasi sistem pembayaran yang terus didorong oleh Bank Indonesia bersama mitra strategis.
“Pertumbuhan QRIS ini tidak hanya mencerminkan perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi, tetapi juga keberhasilan edukasi digital di berbagai lapisan, termasuk pelaku UMKM,” katanya.
Selain peningkatan jumlah pengguna, jumlah merchant yang menerima pembayaran melalui QRIS juga mengalami peningkatan signifikan. Pihaknya mencatat pada triwulan I 2025 terdapat sebanyak 271 ribu merchant, naik 40,9 persen dari tahun 2024 yang berjumlah 257,7 ribu merchant.
