Perjalanan Menantang Menuju Gua Hira
Menjelang Subuh pada 18 Dzulhijjah 1446 Hijriyah, atau bertepatan dengan Sabtu (14/6/2026), para jamaah dari berbagai negara tampak mengular di jalan sempit yang mengelilingi bukit.
Jalan setapak dengan anak tangga yang berjarak sekitar 70 meter dari mulut gua tersebut hanya cukup untuk dua jalur, satu untuk menuju gua dan satu lagi untuk kembali.
Suara “Move move” terdengar untuk memandu para pengunjung agar terus bergerak dan bergantian memasuki gua. “No pray no pray (jangan shalat-shalat),” seru jamaah lainnya dengan tegas di tengah kerumunan.
Karena ukuran gua yang sangat terbatas, jamaah tidak dapat masuk secara bersamaan. Lebar gua diperkirakan hanya 1-1,5 meter, panjangnya sekitar 3 meter, dan tinggi atap yang bervariasi antara 1-2 meter. Dengan ukuran ini, gua hanya bisa menampung 4-5 orang yang harus menunduk, duduk, atau bersandar pada batu di dalamnya.
Seorang jamaah wanita terlihat dibantu suaminya untuk masuk hingga ke sudut gua yang lebih sempit, dengan lebar mungkin hanya sekitar 30-40 sentimeter. Ia harus memiringkan tubuhnya untuk masuk lebih jauh.
Di sisi lain, seorang pria terlihat menyelesaikan shalat subuhnya, duduk menghadap ujung gua yang tepat mengarah ke kiblat, sementara jamaah lain mencium dinding batu, bershalawat, dan berswafoto.
Keluar dari gua pun memerlukan usaha ekstra, mengingat jamaah yang datang masih sangat ramai meskipun hari mulai terang. Pengunjung harus mendaki batu di sisi kanan gua, dengan bantuan tali putih sebagai pegangan, agar dapat kembali ke jalur anak tangga menuju jalan keluar.
