Sejarah Dialog Antaragama di Jerman
Pada masa itu, komunitas Muslim Turki yang baru saja empat tahun menetap di Jerman menghadapi kesulitan dalam menemukan tempat untuk melaksanakan Salat Id. Mereka telah mencoba berbagai cara, termasuk memanfaatkan asrama tempat tinggal mereka. Sayangnya, usaha tersebut menemui jalan buntu. Penolakan datang dari sebagian komunitas agama lain, dan benih-benih islamofobia mulai terasa. Akhirnya, mereka meminta bantuan dari pihak berwenang setempat.
Secara tak terduga, komunitas Katolik merespons dengan tangan terbuka. Katedral Cologne — gereja megah yang pembangunannya dimulai sejak 1248 — membuka pintunya. Salat Id pun dilangsungkan di salah satu lorongnya dengan dihadiri sekitar 700 jamaah. Sebagai bentuk terima kasih, mereka mengumpulkan donasi untuk pemeliharaan katedral tersebut.
Kisah ini menjadi tonggak penting dalam dialog antaragama di Jerman. Bahkan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, mengutip peristiwa ini dalam peringatan 50 tahun Asosiasi Pusat Kebudayaan Islam (VIKS) pada September 2023.
Cerita ini juga mengingatkan kita pada peristiwa lebih dari 14 abad yang lalu di Madinah, ketika Rasulullah mempersilakan rombongan Nasrani dari Najran menggunakan Masjid Nabawi untuk kebaktian mereka karena kesulitan mendapatkan tempat.
Dialog dan Integrasi: Perjalanan yang Masih Panjang
Keterbukaan dan dialog adalah kunci bagi integrasi, dan di Jerman, perjalanan ini telah berlangsung lebih dari seabad. Masjid pertama berdiri di Berlin pada 1924 berkat Jamaah Ahmadiyah. Kini, terdapat sekitar 2.500 masjid tersebar di seluruh Jerman.
Namun, jalan ini tidak selalu mulus. Islamofobia masih menjadi tantangan. Sejak 1997, inisiatif Hari Masjid Terbuka diadakan setiap tanggal 3 Oktober, di mana semua masjid membuka pintu bagi siapa saja, termasuk non-Muslim, untuk mempererat hubungan.
Sekjen PBB António Guterres bahkan pada Maret 2025 menyerukan gerakan global melawan islamofobia. Sejak 2017, Konsil Pusat Muslim Jerman (ZMD) mencatat lebih dari 700 serangan terhadap Muslim.
Upaya integrasi terus berlanjut. Pada 2017, Masjid Besar Cologne berdiri megah, dirancang oleh arsitek ayah-anak, Gottfried dan Paul Böhm, yang biasanya mendesain gereja. Gaya arsitekturnya bernuansa Utsmani, mengingatkan kita pada Masjid Istiqlal di Jakarta, yang diarsiteki Friedrich Silaban, seorang Protestan.
Sejak 2023, Masjid Cologne diizinkan mengumandangkan azan Salat Jumat melalui pengeras suara, sebuah simbol kemajuan koeksistensi.
Berbagai organisasi Islam di Jerman juga aktif mempromosikan integrasi: imam diminta fasih berbahasa Jerman, dan situs Konsil Pusat Muslim Jerman hanya menggunakan bahasa Jerman, sebagai penanda “kami bagian dari sini.” Apalagi, mayoritas Muslim Jerman kini generasi kedua atau ketiga.
House of One: Satu Rumah untuk Tiga Agama
Pada 2012, sebuah gagasan berani lahir di Berlin: House of One. Satu bangunan yang menampung tiga rumah ibadah — gereja, sinagoge, dan masjid — dipisahkan oleh ruang besar untuk pertemuan dan dialog.
Desainnya sengaja dibuat netral, tidak menyerupai bangunan agama manapun. Pesan utamanya adalah persatuan dalam perbedaan. Konstruksi yang sempat terhambat akan dilanjutkan kembali pada September 2025 dan diharapkan selesai dalam beberapa tahun ke depan.
Pembangunan House of One yang lambat mencerminkan proses integrasi Muslim di Jerman. Namun, tekad para penggagas House of One mengajarkan bahwa dialog antaragama harus terus diupayakan meskipun tidak selalu mudah.
