Kasus Pengoplosan Beras Premium Terungkap, Ini Nasib Pengoplos Gandum di Era Rasul
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Publik Indonesia dikejutkan dengan munculnya kasus dugaan pengoplosan beras premium yang mengakibatkan kerugian negara hampir Rp 100 triliun. Dugaan ini melibatkan pencampuran beras Bulog, yang seharusnya diperuntukkan bagi bantuan pangan, dengan beras lain, kemudian dijual sebagai beras premium.
Dalam situasi ini, umat Islam diharapkan kembali merenungi bagaimana Nabi Muhammad SAW menjadi contoh sebagai pedagang yang jujur dan amanah.
Sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad dikenal masyarakat Makkah dengan gelar Al-Amin (yang terpercaya). Dalam berdagang, beliau tidak pernah menipu takaran, menyembunyikan cacat barang, ataupun memanipulasi harga.
Prinsip utama dalam jual-beli menurut Islam adalah kejujuran, saling ridha, dan tidak saling menzalimi. Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang shiddiqin, dan para syuhada.” (HR Tirmidzi 3/515 no 1209).
Rasulullah SAW juga pernah menegur keras seorang pedagang yang menyembunyikan kualitas buruk barangnya. Dalam sebuah riwayat, beliau menemukan makanan basah di bagian bawah tumpukan gandum yang tampak kering di atas.
Rasulullah bersabda: “Mengapa engkau tidak meletakkannya (makanan yang terkena hujan) di atas agar bisa dilihat oleh pembeli? Barang siapa yang menipu, ia bukan termasuk golonganku.” (HR Muslim).
