Trump Kirim Surat Tarif ‘Ambil atau Tinggalkan’ ke 12 Negara
BERITA TERBARU INDONESIA, WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa ia telah menandatangani surat kepada 12 negara, menjelaskan berbagai tingkat tarif untuk ekspor mereka ke AS. Surat tersebut, yang menawarkan pilihan ‘ambil atau tinggalkan’, dijadwalkan untuk dikirim pada Senin (8/7/2025).
Dalam keterangannya kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One saat menuju New Jersey, Trump menolak mengungkap nama-nama negara yang akan menerima surat tersebut. Ia menyatakan bahwa daftar negara akan diumumkan secara resmi pada Senin (7/7/2025).
- Negosiasi Tarif Trump, Indonesia Tawarkan Pembelian Pesawat dan Gandum dari AS
- Trump Tetapkan Tarif 20 Persen untuk Ekspor Vietnam, Impor AS Dibebaskan
- Penerapan Tarif Trump tidak Jelas, Ini Proyeksi Harga Emas ke Depan
Trump sebelumnya mengatakan bahwa pengiriman surat pertama dijadwalkan pada Jumat (5/7/2025), bertepatan dengan hari libur nasional di AS, tetapi akhirnya diundur.
Menurut laporan dari BERITA TERBARU INDONESIA, kebijakan ini merupakan bagian dari strategi tarif global yang diumumkan Trump pada April lalu, yang mencakup tarif dasar 10 persen dengan kemungkinan tambahan hingga 50 persen bagi beberapa negara. Namun, sebagian besar tarif dasar selain 10 persen ditangguhkan selama 90 hari untuk membuka ruang negosiasi. Periode tersebut akan berakhir pada 9 Juli.
Pada Jumat pagi, Trump menyatakan tarif bisa dinaikkan hingga 70 persen, dan sebagian besar akan mulai berlaku pada 1 Agustus 2025. ‘Saya menandatangani beberapa surat, mungkin dua belas, dan akan dikirim Senin,’ kata Trump saat ditanya tentang kebijakan tarif ini. ‘Jumlah uang berbeda, tarif berbeda,’ tambahnya.
Walaupun pernah menyatakan bahwa pemerintahannya akan memulai negosiasi perdagangan dengan beberapa negara, Trump mengaku frustrasi dengan lambannya proses perundingan, terutama dengan mitra dagang utama seperti Jepang dan Uni Eropa. ‘Surat-surat itu lebih baik… jauh lebih mudah mengirim surat,’ ujarnya.
Sampai saat ini, satu-satunya kesepakatan perdagangan yang berhasil dicapai adalah dengan Inggris dan Vietnam. Inggris tetap mempertahankan tarif 10 persen dan mendapatkan perlakuan khusus untuk sektor tertentu seperti otomotif dan penerbangan. Sementara Vietnam sukses menurunkan tarif dari ancaman sebelumnya sebesar 46 persen menjadi hanya 20 persen, dengan sejumlah produk AS diizinkan masuk bebas bea.
Upaya untuk mencapai kesepakatan dengan India gagal, sementara diplomat Uni Eropa menyatakan tidak ada terobosan dalam negosiasi dengan AS. Mereka sedang mempertimbangkan untuk memperpanjang status quo guna menghindari kenaikan tarif yang bisa merugikan kedua belah pihak.
