Modal Mikro Sebagai Jalan Sukses bagi Ibu-Ibu NTB
BERITA TERBARU INDONESIA, “Mutiara air tawar umumnya lebih kecil dan seragam bentuknya dibandingkan dengan mutiara laut yang lebih besar dan bulat,” jelas Surkani, seorang pedagang perhiasan mutiara di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sukarni kemudian menjelaskan bahwa harga mutiara air laut memang berbeda dengan air tawar, yang biasanya lebih terjangkau.
- BTPN Syariah Melaporkan Pertumbuhan Laba 18 Persen pada Kuartal I 2025
- BTPN Syariah Akan Bagikan Dividen Rp 265,78 Miliar
- BTPN Syariah Tambah Anggota Dewan Pengawas Syariah
Di Lombok, banyak ditemui pedagang aksesoris dan perhiasan mutiara dengan harga yang terjangkau di pasar. Berbeda dengan pedagang yang memiliki showroom sendiri dengan harga mulai dari jutaan rupiah per itemnya.
Sukarni telah lama berdagang perhiasan mutiara. “Suami saya yang lebih dulu memulai bisnis ini, dengan modal awal 100 Euro yang diberikan turis Eropa tahun 1992,” ujar Sukarni saat ditemui di Festival Si Tepat di Taman Budaya Provinsi NTB, Jumat (18/5/2025).
Baru pada tahun 2012, Sukarni memutuskan untuk membantu suaminya dalam bisnis perhiasan mutiara. Bisnis ini mulai berkembang setelah ia menjadi nasabah ultra mikro BTPN Syariah lima tahun lalu, saat ia pertama kali mendapatkan modal sebesar Rp 3 juta.
“Hingga kini, saya sudah menerima pembiayaan hingga Rp 10 juta,” ujarnya.
Sukarni menjadi nasabah BTPN Syariah atas ajakan temannya dan merasa bahwa prosesnya tidak sulit. Modal tambahan tersebut digunakan untuk membeli mutiara air laut yang lebih mahal. “Saya jadi bisa membeli mutiara air laut,” katanya.
Untuk jenis perhiasan yang sama, seperti gelang, harga jual antara mutiara air laut dan air tawar memang berbeda. Gelang berbahan tali dengan tiga mutiara air tawar kecil dijual Rp 25 ribu, sementara gelang serupa dengan satu mutiara air laut kecil harganya Rp 100 ribu.
Saat ini, Sukarni memiliki tiga toko, yaitu di Pasar Seni Senggigi, di depan kantor PLN Senggigi, dan di Gili Air.
Tambahan modal dari BTPN Syariah juga dirasakan manfaatnya oleh Maryati, seorang pebisnis kopi robusta dan opak. “Bagi saya, modal tambahan sangat penting untuk usaha,” ungkapnya.
Maryati menjadi nasabah sejak lima tahun lalu dan telah lima kali menerima bantuan modal. Modal pertama yang diterimanya adalah Rp 2,5 juta.
Maryati menyebutkan bahwa selain bantuan modal, pengusaha kopi seperti Asyraff Coffee juga memerlukan bantuan untuk pengurusan NIB atau Nomor Induk Berusaha, sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga sertifikasi halal. “Semua itu membutuhkan biaya untuk pengurusannya,” katanya.
