Perjalanan Mualaf Amerika: Dari Rencana Gelap ke Cahaya Islam
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Pada suatu Jumat di tahun 2009, Richard ‘Mike’ McKinney tidak bisa lagi menahan emosinya. Mantan marinir Amerika Serikat tersebut membawa beberapa bahan peledak rakitan dari rumahnya.
Dengan mengendarai mobil, pria bertubuh kekar ini menuju Masjid Islamic Center of Muncie di Indiana, AS, dengan niat untuk meledakkan tempat ibadah tersebut dan menargetkan seluruh Muslim yang ada di sana.
Amarahnya yang meluap ternyata dipicu oleh hal yang sepele. Sehari sebelumnya, Mike melihat putrinya Emily pulang dari sekolah. Semuanya tampak normal sampai sang putri mulai bercerita.
Emily mengatakan dia diajak ke rumah seorang teman. Di sana, ia melihat ibu temannya mengenakan niqab.
‘Jadi mereka Muslim!?’ tanya Mike dengan suara tinggi.
‘Entahlah, tapi mereka baik padaku,’ jawab Emily singkat.
Berkali-kali Mike meminta putrinya untuk menjauhi temannya itu. Emily bingung dengan sikap ayahnya.
Bagaimana bisa menilai seseorang hanya dari pakaiannya? Jika mereka Muslim, mengapa itu menjadi masalah?
Sampai malam hari, Mike tidak bisa tidur. Ia khawatir putrinya akan terpengaruh oleh mereka yang dianggapnya ‘asing’. Kekhawatiran terbesarnya adalah jika Emily menjadi Muslim.
Inilah yang mendorongnya merakit bom rumahan untuk meledakkannya di tengah jamaah Masjid Islamic Center Muncie. Dia menyiapkan rencana ini dengan matang, seperti seorang marinir yang menuju medan perang.
Sampai di masjid, siang itu tempat ibadah ini ramai oleh jamaah yang baru selesai melaksanakan shalat Jumat. Beberapa orang melihat Mike keluar dari mobil dengan jas tebal dan ikat kepala.
Saat itu, terlintas di pikirannya kata-kata Emily: ‘Tidak ada yang dilahirkan dengan prasangka, rasisme, atau kebencian.’ Ini membuatnya ragu untuk langsung melemparkan bom ke masjid.
Tidak ingin kunjungannya sia-sia, Mike memutuskan untuk masuk ke dalam masjid. Awalnya, dia merasa aneh. Pemandangan di dalam tampak biasa saja. Tidak ada spanduk anti-Amerika atau dukungan untuk kelompok ekstremis seperti yang dibayangkannya.
Di dalam masjid, dia berdiri dan merasa canggung sebagai satu-satunya non-Muslim. Beberapa saat kemudian, seorang jamaah mendekatinya dan menanyakan apakah ada yang bisa dibantu.
Tidak tahu apa yang harus dikatakan, Mike menjawab, ‘Saya ke sini karena ingin tahu tentang Islam.’
Ini menjadi titik awal kesadarannya. Jamaah tersebut memintanya duduk dan menunggu. Tidak lama kemudian, ia diperkenalkan kepada seorang dai yang biasa memimpin shalat di masjid tersebut.
