Cerita Ulama yang Tidak Jadi Berangkat Haji
BERITA TERBARU INDONESIA,JEDDAH — Seorang ulama bernama Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ja’far Al Kattani pernah mengalami kegagalan dalam rencananya untuk menunaikan ibadah haji. Kisah ulama terkenal dari abad ke-IV H, yang lahir di Baghdad ini, diceritakan oleh Wawan Susetya dalam bukunya “Kisah Para Sufi”.
Ketika masih muda, Abu Bakar Al-Kattani meminta izin kepada ibunya untuk menunaikan ibadah haji. Ia memulai perjalanannya melintasi padang pasir yang luas. Dalam perjalanannya, ia melihat mayat yang tersenyum, membuatnya penasaran dan bertanya.
- Gabung Malut United, Abduh Lestaluhu seperti Kembali ke Rumah
- JETOUR T2 Kini Miliki Setir Kanan, Tampil Perdana di GIIAS 2025
- Bacaan Doa Agar Bisa Berangkat Haji
“Mengapa engkau bisa tersenyum, padahal sudah mati?” tanya Abu Bakar Al-Kattani keheranan.
“Karena kasih Allah,” jawab mayat itu.
Abu Bakar Al-Kattani merenung sambil melanjutkan perjalanannya menuju haji, namun ia menyadari bahwa perbekalannya masih kurang, sehingga ia harus kembali ke rumahnya di Baghdad.
Sesampainya di rumah, ibunya sudah menunggu di balik pintu. Ibunya tampak senang melihat anak semata wayangnya kembali dari perjalanan yang direncanakan panjang itu.
Keceriaan wajah ibunya menunjukkan bahwa ia tidak rela anaknya pergi haji meninggalkannya sendirian. Melihat sikap ibunya, Abu Bakar Al-Kattani bertanya untuk memastikan kerelaan ibunya yang sebelumnya mengizinkannya berangkat haji.
“Ibu, bukankah ibu telah mengizinkan aku pergi?” tanya Abu Bakar Al-Kattani.
“Ya,” jawab ibunya.
“Tetapi tanpa engkau, aku tak sanggup melihat rumah ini. Sejak engkau pergi, aku duduk di tempat ini terus-menerus.”
Ucapan ibunya itu menyadarkan Abu Bakar Al-Kattani untuk tidak meninggalkan ibunya sendirian. Oleh karena itu, sebelum ibunya meninggal, ia tidak mau lagi menempuh padang pasir untuk berhaji.
Abu Bakar Al-Kattani adalah anggota dari keluarga Imam Junaid, seorang sufi terkenal. Ia mendapat julukan “Pelita Masjidil Haram” karena menetap di Makkah hingga wafatnya. Selama itu, setiap malam, ia mengisi waktunya dengan salat malam dan membaca Alquran hingga khatam.
Ketika thawaf di Ka’bah, misalnya, ia bisa membaca 20.000 ayat. Yang paling mengagumkan, selama 30 tahun, Abu Bakar Al-Kattani duduk sambil berzikir di bawah air mancur di dalam Masjidil Haram. Ia dikenal karena ketahanannya untuk tidak tidur sepanjang malam, menjaga kesuciannya hanya dengan satu kali wudhu dalam sehari semalam.
