KNEKS Mengusung Induk BTM Sebagai Model Apex IKMS
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Fokus pada penguatan apex lembaga keuangan mikro syariah (IKMS) merupakan salah satu program utama Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) di tahun 2025.
Untuk mendukung inisiatif ini, pada hari Kamis (26/6/2025), KNEKS melakukan kunjungan koordinasi ke Pusat Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) yang berlokasi di Jawa Tengah, tepatnya di Pekalongan. Pusat BTM ini berperan sebagai salah satu apex IKMS atau lembaga yang memberikan dukungan kepada anggotanya.
Pusat BTM terdiri dari koperasi primer yang dikenal sebagai BTM. Memiliki peran strategis, Pusat BTM membantu anggotanya bertahan dan berkembang. Sebagai contoh, sebuah BTM yang hampir mengalami kebangkrutan pada tahun 2008 dengan aset sekitar Rp 2 miliar kini telah tumbuh menjadi IKMS yang sukses dengan aset mencapai Rp 145 miliar.
Menurut Rusmani, Manajer SPI BTM Pemalang, saat itu mereka menghadapi masalah besar yang menyebabkan kekacauan. Para karyawan memboikot sehingga hanya tersisa satu orang yang bekerja. Namun, dengan bantuan pusat BTM Jawa Tengah, mereka berhasil melalui krisis tersebut.
“Kami mendapatkan bantuan berupa dua karyawan dan suntikan dana Rp 1 miliar yang memungkinkan kami untuk bangkit kembali. Dengan dukungan itu, BTM kami bahkan menjadi salah satu contoh IKMS terbaik,” ungkap Rusmani.
Dalam kesempatan tersebut, Bagus Aryo, Deputi Direktur Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) KNEKS, menjelaskan tentang peran apex IKMS.
“Apex memiliki tiga fungsi utama: menghimpun dana, memberikan dukungan finansial (likuiditas dan pembiayaan), serta dukungan teknis,” paparnya.
Bagus memberikan apresiasi kepada Pusat BTM Jawa Tengah atas pelaksanaan fungsi apex yang baik.
Ia berharap, kinerja sebagai apex terus meningkat dan dapat menjadi model bagi apex IKMS lain yang berbentuk koperasi sekunder.
Menurut Iwan Rudi Saktiawan, analis Kebijakan KNEKS, untuk memastikan perkembangan dan keberlanjutan IKMS, dukungan kuat terhadap keberadaan apex IKMS sangat diperlukan.
“Oleh karena itu, KNEKS merekomendasikan beberapa penyempurnaan regulasi untuk mengakui fungsi apex sehingga bisa lebih berdaya dalam mendukung anggotanya. Dengan apex yang kuat, anggota, yakni koperasi primer, juga akan semakin kuat,” jelas Iwan.
Akhmad Syakowi, Ketua Pusat BTM Jawa Tengah, menjelaskan bahwa BTM memiliki tiga tingkatan kelembagaan: BTM sebagai koperasi primer, Pusat BTM di tingkat provinsi, dan Induk BTM di tingkat nasional.
Dengan demikian, Pusat BTM Jawa Tengah adalah salah satu dari beberapa Pusat BTM yang menjadi anggota Induk BTM.
Selain Akhmad Syakowi dan Rusmani, hadir pula Rusman Efendi (Sekretaris Induk BTM) dan Agus Yuliawan (Direktur Eksekutif Induk BTM) dalam acara tersebut.
Dari KNEKS, selain Bagus dan Iwan, hadir juga Slamet Prayitno (Kepala Divisi Pemantauan Program dan Kinerja Industri Produk Halal KNEKS) dan Arief Aditya (Analis LKMS KNEKS).
Di Pekalongan, KNEKS juga mengunjungi BMT Bahtera pada hari yang sama untuk membahas digitalisasi IKMS.
Sehari sebelumnya, yaitu pada hari Rabu (25/6/2025), diadakan sosialisasi mengenai Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) serta rencana strategis untuk pengembangan dan keberlanjutan IKMS 2025-2029.
Rangkaian kegiatan sosialisasi dan kunjungan koordinasi ke Pekalongan diharapkan dapat semakin memperkuat peran IKMS dalam pembangunan nasional. Kontribusi tersebut diharapkan dapat terwujud melalui sinergi IKMS yang ada dengan KDMP, serta penguatan apex IKMS dalam memberdayakan anggotanya.
