Komnas HAM Beberkan Temuan Baru dalam Insiden Ledakan Amunisi Garut, Debat antara Komandan TNI dan Pekerja Sipil Terjadi
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Komnas HAM mengungkapkan keterlibatan warga sipil dalam insiden ledakan saat pemusnahan amunisi TNI afkir di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Garut, Jawa Barat pada 12 Mei 2025. Bahkan ada perdebatan antara Kepala Gudang Pusat Amunisi III Pusat Peralatan TNI AD Kolonel Antonius Hermawan dengan koordinator pekerja warga mengenai penanganan detonator sisa.
Temuan baru ini diungkapkan oleh Komnas HAM setelah melakukan pemantauan langsung terhadap kejadian tersebut. Peristiwa ini diketahui menyebabkan empat prajurit TNI serta sembilan warga sipil kehilangan nyawa.
“Sebelum ledakan terjadi, ada perdebatan singkat antara Komandan Gapusmus dengan koordinator pekerja warga bernama Rustiawan terkait penanganan detonator sisa,” ungkap Komisioner Komnas HAM Uli Parulian Sihombing kepada wartawan, Jumat (23/10/2025).
Komnas HAM menyebutkan, biasanya detonator sisa akan ditenggelamkan ke dasar laut untuk mempercepat proses disfungsi. Namun pada hari tersebut dipilih cara menimbun dengan campuran urea,” ujar Uli.
Dalam proses pemusnahan amunisi itu, biasanya melibatkan setidaknya satu pleton prajurit TNI-AD yang terdiri dari 30-50 prajurit. Mereka mendirikan tenda untuk keperluan menginap prajurit, penyimpanan amunisi yang akan dimusnahkan, dan bahan pendukung lainnya termasuk dapur umum.
“Kegiatan pemusnahan amunisi oleh jajaran Puspalad TNI-AD juga melibatkan 21 orang warga sipil yang dipekerjakan sebagai tenaga harian lepas,” tambah Uli.
Komnas HAM juga menemukan bahwa kegiatan pemusnahan amunisi di lokasi, Desa Sagara, Kecamatan Cibalong selama 2025 dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung dari 17 April hingga 5 Mei 2025 yang dilakukan oleh Gudang Pusat Amunisi I (Puspalad TNI-AD). Gelombang kedua berlangsung dari 29 April 2025 hingga 15 Mei 2025, yang dilakukan oleh Gudang Pusat Amunisi III (Puspalad TNI-AD).
“Kegiatan pemusnahan amunisi yang disertai dengan insiden ledakan yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia adalah bagian dari gelombang kedua, yang bertepatan dengan hari terakhir pemusnahan amunisi yaitu pada hari ke-11,” jelas Uli.
