Krisis Energi di Gaza, Bayi Prematur Berbagi Inkubator
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Tim medis di Rumah Sakit Al-Shifa menghadapi kekurangan bahan bakar di wilayah utara Jalur Gaza. Situasi ini memaksa mereka untuk merawat tiga hingga empat bayi baru lahir dalam satu inkubator guna mendukung pemulihan bayi prematur, jelas seorang dokter di area kantong Palestina tersebut.
Menurut statistik, sekitar 17.000 bayi lahir di Jalur Gaza pada paruh pertama tahun 2025. Satu dari sepuluh bayi dilahirkan secara prematur atau dengan berat badan kurang.
Rumah sakit telah lama berjuang melawan kekurangan akut susu formula bayi, bahan bakar, komponen generator, alat medis, serta tenaga kesehatan.
Zahir al-Wahidi, juru bicara utama Kementerian Kesehatan Gaza, menyatakan kepada RIA Novosti bahwa dokter di Gaza terpaksa menempatkan beberapa bayi dalam satu inkubator untuk menghemat energi.
“Pasokan bahan bakar ke rumah sakit di Jalur Gaza setelah koordinasi dengan organisasi internasional sangat terbatas. Staf harus menempatkan tiga atau empat bayi dalam satu inkubator,” katanya.
Al-Wahidi juga menyampaikan bahwa jumlah bayi prematur yang belum pernah terjadi sebelumnya disebabkan oleh perang Israel di Gaza, karena banyak ibu hamil terpaksa berkumpul di tenda pengungsi dalam kondisi yang memprihatinkan, terkena dampak pemboman, dan kekurangan makanan serta air bersih.
Lebih dari 59.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 142.000 lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, menurut perkiraan Kementerian Kesehatan Gaza.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa hanya tersedia 2.000 tempat tidur rumah sakit di wilayah yang dihuni sekitar 2 juta orang tersebut, dan hanya sebagian yang beroperasi.
Pada 7 Oktober 2023, Israel menghadapi serangan besar di Jalur Gaza setelah kelompok perjuangan Palestina, Hamas, menerobos perbatasan dan menyerang warga sipil serta personel militer, juga menyandera lebih dari 200 orang.
Pemerintah Israel menyatakan bahwa sekitar 1.200 warganya tewas dalam peristiwa itu, yang kemudian direspons dengan operasi militer dan serangan darat ke Jalur Gaza.
Israel kemudian memberlakukan pengepungan total terhadap Gaza, dengan memutus pasokan air, listrik, bahan bakar, makanan, dan medis.
Pada 30 Juni, Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty menyatakan bahwa Kairo, bersama dengan negara mediator lainnya, sedang berusaha untuk menengahi gencatan senjata selama 60 hari di Jalur Gaza dan pembebasan sejumlah sandera Israel.
Perundingan tidak langsung antara Israel dan Hamas mengenai gencatan senjata di Gaza dilanjutkan di Doha pada 6 Juli.
