Implementasi Kebijakan KDM, Kepala SMAN 1 Cirebon: Peningkatan Jumlah Siswa per Rombel
BERITA TERBARU INDONESIA, CIREBON – Kebijakan dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) tentang peningkatan jumlah siswa dalam setiap rombongan belajar (rombel) di SMA Negeri, mulai diterapkan di Kota Cirebon. Penambahan ini merupakan bagian dari program Penanggulangan Anak Putus Sekolah (PAPS) dan sekolah penyangga.
Sejumlah sekolah seperti SMAN 1 Cirebon dan SMAN 2 Cirebon mengalami penambahan jumlah siswa. Kuota yang sebelumnya 36 siswa per rombel, kini meningkat menjadi rata-rata 44 hingga 45 siswa per rombel.
“Jumlah rombel tetap 12 per sekolah, baik di SMAN 1 maupun SMAN 2. Namun, jumlah siswa dalam rombel bertambah karena program PAPS dan sekolah penyangga,” ungkap Kepala SMA Negeri 1 sekaligus Plt Kepala SMA Negeri 2 Cirebon, Nendi, Jumat (11/7/2025).
Nendi menjelaskan bahwa penambahan siswa ini bermula dari keputusan Gubernur Jabar yang berkomitmen agar tidak ada anak yang putus sekolah di daerah tersebut. Oleh karena itu, program PAPS diluncurkan dengan menambah jumlah siswa di setiap rombel sekolah negeri.
Gubernur Jabar telah meminta izin kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk menaikkan jumlah siswa menjadi 50 orang per kelas. Menurut Nendi, angka ini adalah batas maksimal dan penyesuaian dilakukan dengan kondisi di lapangan. “Itu adalah jumlah maksimal. Nyatanya, Insya Allah tidak ada yang mencapai 50 orang hingga saat ini,” tutur Nendi.
Penambahan ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, atau anak-anak dengan masalah keluarga, seperti orang tua yang bercerai. Program ini juga mendukung anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya agar mereka bisa terus bersekolah.
Untuk memastikan kevalidan data, pihak sekolah mendatangi rumah siswa yang bersangkutan untuk memeriksa kondisi ekonomi mereka. Sekolah juga mengumpulkan informasi dari tetangga sekitar untuk memastikan kondisi keluarga siswa tersebut. “Siswa yang kami terima benar-benar dari keluarga yang memerlukan bantuan agar bisa bersekolah,” tambahnya.
Selain PAPS, Nendi melanjutkan, penambahan siswa juga terjadi karena program sekolah penyangga. Misalnya, SMAN 2 menjadi penyangga untuk daerah Kedawung, SMAN 6 untuk daerah Gunung Jati, SMAN 8 untuk daerah Mundu, SMAN 9 untuk daerah Ciperna, dan SMAN 5 untuk daerah Talun. Sekolah-sekolah ini dapat menerima siswa dari daerah-daerah penyangganya.
