Lembang Diterpa Longsor dan Banjir, Alih Fungsi Lahan Dipandang Sebagai Salah Satu Penyebab
BERITA TERBARU INDONESIA, BANDUNG BARAT–Kawasan wisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, mengalami bencana longsor dan banjir dalam beberapa hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KBB melaporkan adanya 10 titik bencana di wilayah tersebut.
“Dalam catatan kami, terdapat 10 titik bencana di Kecamatan Lembang pekan ini. Mulai dari Desa Wangunsari, Lembang, Jayagiri, Pagerwangi, Kayuambon, Mekarwangi, Langensari, Gudang Kahuripan. Selain itu, Desa Cikole dan Cibogo juga terkena dampak, kebanyakan berupa longsor,” ujar Kepala Pelaksana BPBD KBB, Meidi saat dikonfirmasi, Senin (19/5).
Kawasan wisata ini berada di dataran tinggi, dengan titik terendah Lembang berada di ketinggian 959 mdpl, sedangkan titik tertingginya mencapai 1.401 mdpl di sekitar Gunung Tangkuban Parahu.
Bencana longsor di Lembang umumnya disebabkan oleh tanah yang labil, diperparah dengan air yang seharusnya mengalir ke saluran pembuangan, namun nyatanya meluap akibat saluran yang kecil dan tersumbat, sehingga memicu longsor.
“Memang cuaca yang menjadi penyebab utama, seperti hujan deras belakangan ini. Namun, harus diakui, resapan air di Lembang semakin berkurang, sehingga air tidak terserap ke tanah,” tambah Meidi.
Meidi menyatakan, pihaknya hanya bisa mengantisipasi potensi dampak bencana, terutama pada korban luka dan jiwa, dengan meningkatkan kewaspadaan masyarakat saat cuaca ekstrem terjadi. “Kami meminta masyarakat untuk waspada, jika cuaca ekstrem lebih baik mengungsi untuk meminimalisir korban saat bencana tiba-tiba terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Lembang, Bambang Eko mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan di kawasan hutan, terutama di daerah utara Lembang, semakin tidak terkendali. Akibatnya, ketika musim hujan dengan intensitas tinggi seperti sekarang, air yang seharusnya masuk ke saluran justru meluap ke jalan, menyebabkan banjir yang semakin parah.
“Setiap kali hujan deras seperti saat ini, pasti banjir. Namun, banjir cepat surut karena banyak saluran drainase utama yang tertutup sejak pembangunan Alun-alun Lembang beberapa tahun lalu,” kata Bambang.
