Libur Panjang 2025 Diprediksi Dorong Peningkatan Belanja Hingga 13,8 Persen
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Kepala Mandiri Institute, Andre Sumangunsong, menyampaikan hasil kajian mengenai tren belanja masyarakat sepanjang tahun 2025. Kajian ini memproyeksikan bahwa libur panjang dapat memicu kenaikan nilai belanja masyarakat hingga hampir 14 persen.
Mandiri Spending Index (SMI) pada 11 Mei 2025 mencatat angka 257,9, yang mengindikasikan tren belanja masyarakat masih kuat. Lonjakan ini dipengaruhi oleh momentum libur panjang seperti Hari Buruh dan Hari Raya Waisak di awal Mei.
“Secara umum, libur memberikan dampak positif pada belanja. Seperti yang terjadi pada 2024, peningkatan belanja lebih signifikan ketika libur memiliki karakteristik tertentu: durasi yang panjang, berada di awal atau akhir bulan, serta jarak antara periode libur yang cukup,” ujar Andre dalam Konferensi Pers Economic Outlook Kuartal II 2025 Bank Mandiri yang digelar secara virtual, Senin (19/5/2025).
Andre menambahkan bahwa Mandiri Institute telah melakukan analisis terhadap efektivitas kebijakan cuti bersama yang bersamaan dengan hari libur nasional. Analisis ini bertujuan untuk memberikan masukan agar pemerintah dapat menetapkan tambahan waktu libur secara lebih tepat guna meningkatkan konsumsi masyarakat.
“Tujuannya adalah agar karakteristik libur yang dianalisis bisa menjadi masukan dalam kebijakan. Jadi, jika pemerintah ingin menetapkan tambahan cuti bersama, bisa lebih efektif,” katanya.
Andre menjelaskan, beberapa faktor yang mendorong belanja masyarakat saat libur panjang antara lain jika libur terjadi di akhir pekan dan jika jarak antar libur panjang tidak terlalu dekat.
Ia mencontohkan pada tahun 2024, libur panjang Jumat Agung dan Kenaikan Isa Almasih hanya berjarak sembilan hari. Akibatnya, peningkatan belanja pada Kenaikan Isa Almasih hanya tercatat 0,18 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding peningkatan belanja pada Jumat Agung yang mencapai 9,48 persen, yang berjarak sekitar satu bulan dari libur panjang sebelumnya.
“Jika faktor-faktor ini terpenuhi, potensi peningkatan belanja bisa mencapai 13,8 persen. Ke depan, kebijakan libur tambahan bisa lebih efektif untuk mendorong belanja masyarakat,” tutupnya.
