Longsor di Tambang Cirebon Bukan Karena Faktor Alam, Ini Penjelasan Resmi dari BNPB
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa longsor yang terjadi di lokasi tambang galian C Gunung Kuda, Cirebon, tidak disebabkan oleh faktor alam. Kejadian yang menewaskan banyak pekerja ini dianggap sebagai kecelakaan kerja karena aktivitas penambangan yang mengabaikan aspek keselamatan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan dalam konferensi daring bahwa, “Longsor di Gunung Kuda, Cirebon, bukanlah bencana alam, melainkan kecelakaan kerja.”
Abdul mengungkapkan bahwa tidak ada faktor pemicu alami seperti hujan atau gempa pada Jumat (30/5), sehingga kuat dugaan bahwa longsor disebabkan oleh pengerukan bukit yang masif tanpa memperhatikan keamanan. Temuan ini didukung oleh hasil investigasi Polresta Cirebon yang menetapkan dua tersangka: pemilik tambang dan kepala teknik tambang.
“Longsor terjadi karena aktivitas penambangan yang mengabaikan keselamatan. Tidak ada hujan atau gempa sebelum kejadian,” tambah Abdul.
Ia juga menyoroti bahwa wilayah Gunung Kuda memang tergolong area rawan longsor, yang kondisinya semakin memburuk akibat aktivitas tambang. Data citra satelit menunjukkan kerusakan lahan yang sudah terdeteksi sejak 2009 dan meningkat signifikan sejak 2019.
Kemiringan lereng di Gunung Kuda bahkan sudah mencapai 60 derajat, dua kali lipat dari ambang batas aman.
“Dalam kondisi alami, kemiringan 30 derajat saja sudah berisiko longsor. Kini lerengnya 60 derajat, dan itu akibat penambangan,” jelasnya.
Abdul menyerukan agar pemerintah daerah memperketat pengawasan tambang. Ia menyebutkan bahwa ini adalah kejadian longsor ketujuh yang berdampak signifikan di Cirebon sejak 2020.
“Jawa Barat mencatat 1.515 kejadian longsor, tertinggi secara nasional. Cirebon sudah mengalami enam kali longsor dari 2020 hingga 2024, dan ini yang ketujuh,” ujarnya.
Meskipun demikian, Abdul memberikan apresiasi terhadap respons cepat dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Cirebon yang segera menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat evakuasi.
Hingga Senin sore, BNPB melaporkan bahwa 21 korban meninggal dunia telah berhasil dievakuasi. Salah satu korban terbaru yang ditemukan adalah Sudiono (51), warga Desa Girinata, Kecamatan Dukupuntang, Cirebon.
Tim SAR gabungan terus mencari empat korban lain yang dilaporkan hilang. “Operasi SAR masih berlangsung. Kami meminta petugas untuk tetap mengutamakan keselamatan,” tutup Abdul Muhari.
