Mas Gibran, Bonus Demografi, dan Solusi Filosofis
BERITA TERBARU INDONESIA, JAKARTA – Belum lama ini, Mas Wapres—sapaan akrab yang kini populer untuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka—merilis video monolog tentang bonus demografi.
Dalam videonya, Mas Wapres mengajak masyarakat untuk bersikap optimis bahwa Indonesia tengah berada dalam masa keemasan, dengan sebagian besar populasi berada di usia produktif, siap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, di balik ajakan tersebut, banyak anak muda justru melihat ironi. Optimisme mengenai bonus demografi terasa terlalu normatif, sedangkan realitas sehari-hari menunjukkan hal yang berbeda.
Di balik kemeriahan konten kreatif dan perkembangan startup, generasi muda Indonesia—khususnya Generasi Z—mengalami kegelisahan mendalam karena sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, tingginya biaya hidup, impian memiliki rumah yang terasa utopis, serta ketidakpastian finansial yang menghantui masa depan mereka.
Istilah-istilah seperti “Indonesia Gelap” atau “Kabur Aja Dulu” begitu sering terdengar di kalangan generasi Z, dan semuanya tercipta dari kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan.
Oleh karena itu, alih-alih menjadi kekuatan, bonus ini berisiko berubah menjadi beban demografi—ketika generasi produktif tidak dapat terserap dalam lapangan kerja yang berkualitas, tidak memiliki jaminan sosial, dan akhirnya menjadi sumber tekanan sosial dan ekonomi baru.
Sebagaimana disadari oleh banyak pengamat, narasi bonus demografi tanpa perubahan struktural hanya akan memperpanjang mitos, bukan memperbaiki nasib.
Dalam situasi ini, pemikiran Sayyid Muhammad Baqir al-Sadr dalam karya masterpiece-nya Iqtishaduna (Ekonomi Kita) menawarkan bukan sekadar kritik, tetapi juga solusi filosofis.
Baqir Sadr bukan hanya seorang ekonom visioner, melainkan juga seorang ulama Islam yang komprehensif, yang menguasai bidang fikih, filsafat, dan teologi dengan sangat mendalam. Ketajamannya dalam menganalisis persoalan ekonomi secara filosofis tidak bisa dipisahkan dari kepakarannya dalam filsafat Islam.
