Media Iran Soroti Potensi Perang dengan Israel yang Mungkin Kembali Berkobar
BERITA TERBARU INDONESIA, TEHERAN— Beberapa media, surat kabar, dan platform media sosial di Iran sedang memusatkan perhatian pada kemungkinan pecahnya perang baru, mendorong persatuan nasional untuk menahan serangan militer lebih lanjut terhadap Iran.
Berdasarkan laporan koresponden Aljazeera di Teheran, Noureddine Aldaghir, surat kabar reformis Sharq menampilkan editorial bertajuk “Skenario Perang Kedua”, yang menyoroti potensi konflik baru dan pentingnya menjaga persatuan nasional untuk mencegah serangan tambahan.
- Media Internasional Sepakati: Israel Kandas di Jalur Gaza dan Kalah dalam Konflik dengan Iran
- Media Israel Ungkap Mediasi Tersembunyi untuk Mengakhiri Sidang Korupsi Netanyahu, Tetapi Gagal
- 7 Tentara IDF Tewas Terbakar, Media Israel Kecewa Sebut Militer Israel Memalukan
Di platform X, aktivis Mohammad Yar Ahmad mempertanyakan kemungkinan terjadinya perang baru, sementara beberapa aktivis lainnya tidak menganggap perang antara Iran dan Israel akan terjadi dalam waktu dekat.
Isu perang baru juga dibahas di televisi pemerintah Iran, dengan profesor Universitas Teheran Ebrahim Mottaki menyatakan dalam sebuah wawancara bahwa Amerika Serikat dan Israel mungkin akan memulai perang baru dalam waktu seminggu.
Televisi pemerintah juga menampilkan wawancara dengan Ali Larijani, seorang penasihat pemimpin Iran, yang berbicara tentang saat-saat di mana sesi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi menjadi target, dan Pemimpin Ali Khamenei menjadi sasaran.
Dia juga menyatakan bahwa negosiasi tersebut merupakan strategi Amerika Serikat untuk memulai perang.
Media internasional terus menyoroti dampak dari konflik Israel-Iran dan potensi pembaruannya di masa depan.
Media juga menyoroti kesiapan tentara pendudukan untuk menghadapi perang multi-front dengan Iran dan proksi-proksi mereka di wilayah tersebut.
Aljazeera melaporkan sejumlah analisis dari berbagai media internasional, dikutip Senin (30/6/2025).
Sebuah artikel di surat kabar Inggris, The Guardian, memperingatkan kerapuhan gencatan senjata antara Israel dan Iran, menyatakan bahwa gencatan senjata dapat berakhir kapan saja.
Menurut artikel tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang sedang dicari oleh Pengadilan Kriminal Internasional, menggunakan konflik ini sebagai alat untuk mempertahankan kekuasaan dan menghindari pertanggungjawaban.
The Guardian menyamakannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam ketergantungannya pada perang yang berkepanjangan.
Rezim Iran dapat memanfaatkan situasi ini untuk memperkuat program nuklirnya atau membeli senjata dari negara-negara seperti Korea Utara, sebut artikel tersebut.
BACA JUGA:Serangan Rudal Iran Hebat, tapi Mengapa Korban Israel Sedikit? Inilah Penjelasannya
Pemimpin politik memicu konflik demi keuntungan pribadi sementara warga sipil harus menanggung akibatnya.
Gencatan senjata antara Tel Aviv dan Teheran mulai berlaku pada 24 Juni, menyusul perang yang dipicu Israel pada 13 Juni dengan tujuan untuk menghapuskan program nuklir dan rudal Iran.
Rabu, 02 Jul 2025, 07:56 WIB, media Iran ramai memberitakan kemungkinan perang dengan Israel akan segera berkobar kembali.
